Jakarta – Pergerakan mata uang asing utama diproyeksikan masih akan fluktuatif dalam jangka pendek. Pasar saat ini berada dalam posisi menanti realisasi kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran yang menjadi sentimen utama penggerak nilai tukar global.
Berdasarkan data Trading Economics pada Selasa (16/6/2026) pukul 15.31 WIB, sejumlah pasangan mata uang menunjukkan performa beragam. Pasangan EUR/USD berada di level 1,1601 dengan koreksi 1,40 persen secara year to date (ytd). Sementara itu, GBP/USD berada di level 1,3419, terkoreksi 0,49 persen ytd. Sebaliknya, AUD/USD menguat 5,53 persen ytd ke level 0,7064, USD/JPY menguat 2,25 persen ytd ke level 160,27, dan USD/CHF menguat 0,35 persen ytd di level 0,7947.
Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai bahwa pergerakan mata uang saat ini telah dipengaruhi oleh kebijakan moneter bank sentral dunia. Bank sentral Eropa telah menaikkan suku bunga pada 11 Juni 2026, disusul oleh Jepang pada 16 Juni 2026. Sementara bank sentral Australia memutuskan untuk mempertahankan suku bunga pada tanggal yang sama. Menurut Lukman, nilai mata uang tersebut sudah mencerminkan kebijakan masing-masing bank sentral atau telah priced in.
Namun, fokus utama investor saat ini tertuju pada kepastian perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran. Lukman menjelaskan bahwa pelaku pasar cenderung menahan diri untuk melihat klarifikasi resmi terkait kesepakatan tersebut. Investor memilih untuk bersikap wait and see sampai ada penandatanganan formal.
Jika perdamaian terkonfirmasi, Lukman memproyeksikan dolar Australia akan menjadi mata uang yang paling sensitif terhadap risiko. Meskipun harga komoditas energi seperti batubara diperkirakan akan turun, dukungan dari komoditas lain seperti biji besi dan emas diharapkan mampu menjaga stabilitas mata uang tersebut.
Research and Development ICDX, Muhammad Amru Syifa, menambahkan bahwa penguatan euro terjadi karena dolar AS kehilangan daya tariknya sebagai aset lindung nilai. Membaiknya sentimen pasar global dipicu oleh laporan tercapainya kesepakatan antara Washington dan Teheran untuk mengakhiri konflik. Kesepakatan ini mencakup penghentian operasi militer permanen serta pembukaan kembali akses pelayaran di Selat Hormuz.
Amru menyatakan bahwa konfirmasi gencatan senjata dari kedua belah pihak berhasil mengurangi kekhawatiran pasar terhadap gangguan perdagangan dan pasokan energi global. Kondisi ini secara langsung menekan permintaan terhadap dolar AS.
Di kawasan Eropa, euro mendapatkan dukungan tambahan dari langkah Bank Sentral Eropa (ECB) yang menaikkan suku bunga untuk pertama kalinya dalam tiga tahun. Langkah tersebut mencerminkan komitmen ECB dalam menekan inflasi yang masih tinggi. Revisi proyeksi inflasi yang lebih tinggi untuk tahun 2026 dan 2027 juga memperkuat ekspektasi bahwa kebijakan moneter ketat akan terus berlanjut.
Di sisi lain, penguatan poundsterling masih dibayangi oleh ketidakpastian ekonomi domestik Inggris. Kontraksi ekonomi sebesar 0,1 persen pada April memicu spekulasi bahwa Bank of England akan lebih berhati-hati dalam menentukan kebijakan moneternya. Dinamika politik menjelang pemilu sela di Inggris turut menambah ketidakpastian bagi pasar.
Amru juga menyoroti franc Swiss yang tetap menunjukkan performa kuat sebagai aset safe haven di tengah ketidakpastian global. Sementara itu, pelaku pasar kini menantikan keputusan Federal Reserve terkait prospek suku bunga dan arah kebijakan moneter Amerika Serikat ke depan.
Terkait proyeksi hingga kuartal III-2026, jika perdamaian AS-Iran terealisasi, Lukman memprediksi pasangan EUR/USD akan berada di kisaran 1,17 hingga 1,18. Pasangan GBP/USD diperkirakan bergerak di rentang 1,35 hingga 1,36, dan AUD/USD di rentang 0,72 hingga 0,73. Sementara itu, USD/JPY diproyeksi berada di kisaran 155 hingga 160, dan USD/CHF di rentang 0,77 hingga 0,78.







