New York – Harga minyak dunia mengalami tekanan jual yang signifikan pada perdagangan Senin (15/6/2026), dengan penurunan mencapai hampir 5 persen. Kondisi ini membawa harga komoditas energi tersebut ke level terendah dalam tiga bulan terakhir pasca pengumuman kesepakatan awal antara Amerika Serikat dan Iran.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, secara resmi mengumumkan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) dengan pihak Iran. Kesepakatan ini bertujuan untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung selama beberapa bulan terakhir di kawasan tersebut.
Pasar merespons positif kabar damai ini karena kesepakatan tersebut mencakup rencana pembukaan kembali Selat Hormuz. Jalur pelayaran ini merupakan titik krusial bagi sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia.
Data perdagangan mencatat harga minyak mentah Brent ditutup turun 4,16 dolar AS atau 4,76 persen ke level 83,17 dolar AS per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS merosot 4,13 dolar AS atau 4,87 persen menjadi 80,75 dolar AS per barel.
Penurunan tajam ini secara efektif menghapus sebagian besar premi risiko geopolitik yang sebelumnya menopang kenaikan harga minyak selama masa perang. Seorang pejabat Amerika Serikat mengonfirmasi bahwa MoU tersebut ditandatangani oleh Presiden Donald Trump, Wakil Presiden JD Vance, dan Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Qalibaf.
Upacara penandatanganan resmi dijadwalkan akan diselenggarakan di Jenewa pada Jumat mendatang. Berdasarkan laporan media Iran, Mehr, rancangan kesepakatan itu mengatur pembukaan kembali Selat Hormuz dalam waktu 30 hari di bawah pengaturan pihak Iran.
Selain itu, kedua negara menargetkan penyelesaian perjanjian damai yang lebih komprehensif dalam kurun waktu 60 hari ke depan. Ekspektasi pulihnya arus pasokan global menjadi faktor utama yang menekan harga di pasar komoditas.
Wakil Presiden Senior Perdagangan Bok Financial, Dennis Kissler, menyatakan bahwa penurunan harga minyak merupakan respons wajar dari pasar. Para pelaku pasar mulai memperhitungkan potensi lonjakan pasokan dari Timur Tengah ke pasar global.
Sentimen ini diperkuat oleh langkah Iran yang memangkas harga jual resmi minyak mentah ringan untuk pembeli Asia. Harga ditetapkan pada premi 7,15 dolar AS per barel di atas rata-rata Oman/Dubai untuk pengiriman Juli, jauh lebih rendah dibandingkan premi 13 dolar AS per barel pada bulan sebelumnya.
Lembaga keuangan Citi turut merevisi turun proyeksi harga rata-rata Brent untuk paruh kedua tahun 2026. Bank tersebut memperkirakan Brent berada di kisaran 75 dolar AS per barel pada kuartal III dan 70 dolar AS per barel pada kuartal IV, seiring harapan normalisasi perdagangan melalui Selat Hormuz.
Meskipun demikian, pelaku pasar tetap bersikap hati-hati karena pemulihan pasokan dinilai tidak akan terjadi secara instan. Selama tiga bulan konflik, jutaan barel minyak dan gas dunia tidak dapat mengalir ke pasar global akibat penutupan Selat Hormuz.
Kepala Riset Sparta Commodities, Neil Crosby, menekankan bahwa proses pemulihan rantai pasok dan aktivitas pengiriman di kawasan Teluk akan menjadi tantangan tersendiri. Sebagian perusahaan pelayaran kemungkinan masih menunggu kepastian keamanan serta perlindungan asuransi sebelum kembali beroperasi penuh.
Badan Energi Internasional (IEA) mencatat lebih dari 14 juta barel per hari produksi minyak global sempat terhenti selama konflik berlangsung. Angka tersebut setara dengan sekitar 14 persen dari total permintaan dunia.
Kalangan industri memperingatkan bahwa pemulihan produksi dan kapasitas pengolahan ke tingkat sebelum perang memerlukan waktu yang panjang. Proses ini bisa memakan waktu mulai dari beberapa minggu hingga hitungan tahun.
Di sisi lain, analis UBS Giovanni Staunovo menilai sejumlah faktor masih berpotensi menopang harga minyak dalam jangka panjang. Rendahnya persediaan minyak global, lambatnya proses pemulihan produksi, serta kebutuhan pengisian kembali cadangan strategis diyakini dapat membatasi penurunan harga lebih lanjut.
Data pemerintah Amerika Serikat menunjukkan persediaan minyak di negara-negara ekonomi utama mendekati level terendah sejak 2003. Cadangan Minyak Strategis (SPR) AS sendiri telah turun menjadi 340,3 juta barel, level terendah sejak 1983.
Selain itu, isu geopolitik lainnya masih membayangi stabilitas kawasan. Israel menegaskan akan tetap mempertahankan kehadiran militernya di zona keamanan di Lebanon, Suriah, dan Gaza. Pembahasan mengenai program nuklir Iran juga diprediksi tetap menjadi agenda krusial dalam perundingan lanjutan.
Untuk saat ini, fokus utama pelaku pasar tertuju pada prospek kembalinya pasokan minyak Timur Tengah. Hal inilah yang memicu aksi jual besar-besaran dan menyeret harga minyak ke level terendah sejak awal Maret lalu.







