Ecozone

Indeks LQ45 Lanjutkan Penguatan, Investor Perlu Mencermati Deretan Saham Ini

14
×

Indeks LQ45 Lanjutkan Penguatan, Investor Perlu Mencermati Deretan Saham Ini

Sebarkan artikel ini
24ac3ed6da45b91b46e8b3a6f0257daf.jpg
24ac3ed6da45b91b46e8b3a6f0257daf.jpg

Jakarta – Indeks LQ45 yang menaungi saham-saham unggulan atau blue chip mencatatkan penguatan sebesar 3,54% ke level 589,47 pada perdagangan Rabu, 10 Juni 2026. Kenaikan ini sekaligus memperpanjang tren positif setelah pada sesi perdagangan sebelumnya indeks tersebut sempat melesat sebesar 8,01%.

Analis BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand, menuturkan bahwa penguatan yang terjadi saat ini merupakan sinyal yang lebih kuat dibandingkan sekadar pemulihan teknikal atau technical rebound. Menurutnya, lonjakan signifikan indeks LQ45 pada perdagangan sebelumnya didorong oleh tiga pilar utama.

Faktor pertama adalah kenaikan suku bunga acuan oleh Bank Indonesia yang direspon pasar sebagai langkah strategis dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Faktor kedua adalah imbauan pemerintah melalui Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) terkait aksi pembelian kembali atau buyback saham oleh institusi.

Faktor ketiga, lanjut Abida, adalah kondisi valuasi saham-saham dalam indeks LQ45 yang saat ini berada di titik terendah dalam kurun waktu lima tahun terakhir. Meski demikian, ia menegaskan bahwa keberlanjutan tren penguatan ini masih memerlukan konfirmasi lebih lanjut.

Hal utama yang perlu diperhatikan pasar adalah meredanya tekanan jual bersih atau net sell dari investor asing secara konsisten. Selain itu, kestabilan nilai tukar rupiah menjadi variabel kunci agar penguatan indeks tidak bersifat sementara.

Abida menilai kondisi pasar saat ini menciptakan momentum akumulasi yang menarik bagi investor jangka panjang. Koreksi yang terjadi sejak awal tahun telah menghasilkan margin of safety yang cukup besar pada sejumlah saham blue chip.

“Alokasikan 60% hingga 70% dana ke saham defensif dengan yield tinggi dan 30% hingga 40% ke saham growth yang sudah sangat terdiskon untuk memaksimalkan potensi kenaikan saat pemulihan penuh terjadi,” ujar Abida.

Ia menyarankan investor untuk melakukan akumulasi secara bertahap dalam tiga hingga empat tahap selama dua hingga tiga bulan ke depan, alih-alih masuk sekaligus ke pasar dalam satu waktu.

Secara terpisah, Financial Expert Ajaib Sekuritas, Ratih Mustikoningsih, menyatakan bahwa kenaikan indeks LQ45 sebesar 11,5% mengonfirmasi kepemimpinan saham blue chip dalam fase pemulihan IHSG dari level terendah 5.342. Ratih menyoroti valuasi saham bank besar yang kini berada pada level sangat murah, jauh di bawah rata-rata Price to Book Value (PBV) selama 15 tahun terakhir.

Sebagai contoh, saham BMRI sempat menyentuh harga Rp 3.710 per saham pada perdagangan Selasa, 9 Juni 2026, dengan valuasi hanya 1,2 kali PBV. Angka tersebut menjadi level terendah dalam dua dekade terakhir dengan potensi imbal hasil dividen hingga 13% berdasarkan proyeksi laba bersih tahun buku 2025.

Ratih menambahkan bahwa keputusan Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5,5% pada 9 Juni 2026 merupakan langkah antisipatif di luar ekspektasi pasar. Kebijakan ini dinilai mampu menekan premi risiko jangka pendek, baik dari sisi nilai tukar maupun selisih imbal hasil.

Langkah tersebut juga dipandang membantu meredam tekanan pelemahan rupiah yang sempat terdepresiasi sekitar 8,6% sejak awal tahun hingga mencapai level Rp 18.200 per dolar AS pada 8 Juni 2026. Jika stabilitas kurs terjaga, arus dana asing berpeluang kembali masuk ke pasar keuangan domestik.

Namun, Ratih mencatat adanya anomali pasar di mana penguatan tajam dalam dua hari terakhir terjadi di tengah aksi jual bersih investor asing sebesar Rp 5,52 triliun pada periode 8 hingga 9 Juni 2026. Data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) menunjukkan investor asing mencatatkan net sell sebesar 2,36% sejak Januari hingga Mei 2026.

Hingga Mei 2026, porsi kepemilikan asing tercatat tersisa 41,17% dari total nilai aset saham yang beredar. Tanpa adanya pembalikan arus dana asing, Ratih memperingatkan bahwa penguatan IHSG saat ini masih berisiko hanya menjadi rebound jangka pendek.

Untuk strategi investasi, Ratih menyarankan investor memanfaatkan peluang mispricing pada saham blue chip untuk mengoptimalkan potensi imbal hasil jangka panjang. Investor juga diimbau tetap menjaga porsi kas yang fleksibel guna mengantisipasi volatilitas makroekonomi yang masih berlanjut.

Terkait pilihan saham, Ratih merekomendasikan akumulasi beli pada BMRI dengan resistance Rp 4.550 dan support Rp 4.000, EXCL dengan resistance Rp 2.750 dan support Rp 2.350, serta ADRO dengan resistance Rp 2.400 dan support Rp 2.100.

Sementara itu, Abida merekomendasikan beli saham BMRI dengan target harga Rp 6.200 dan BBNI dengan target Rp 4.700. Selain itu, ia juga menyarankan pembelian saham TLKM dengan target Rp 3.750 dan ISAT dengan target Rp 3.000 karena valuasi price to earnings yang masih di bawah rata-rata historis.

f24e5bddb18bf018dd57d6cf0753bdba.jpg
Ecozone

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali melanjutkan kenaikan setelah sehari sebelumnya melesat tinggi. Mengutip data Bursa Efek Indonesia (BEI) via RTI, IHSG melesat 2,71% ke level 5.902,37 pada penutupan perdagangan, Rabu (10/6/2026). Sepanjang perdagangan perdagangan IHSG bergerak di level terendah 5.677 dan level tertinggi 5.942. Baca Juga: Asing Net Sell Saat IHSG Menguat, Cek Saham yang Banyak Dilego, Rabu (10/12)…

0e90dbb1b011a442dc1100a968e65442.jpg
Ecozone

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menguat pada Rabu (10/6/2026). Mengutip Bloomberg, rupiah di pasar spot menguat 0,63% secara harian ke Rp 17.944 per dolar AS. Berdasarkan Jisdor Bank Indonesia (BI), rupiah menguat 0,93% secara harian ke Rp 17.971 per dolar AS. Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong mengatakan, penguatan rupiah murni didukung sentimen domestik oleh meningkatnya harapan…

66d9be80f9b2216849e36f5d6ffa975e.jpg
Ecozone

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Para pemegang saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang digelar Rabu (10/6/2026) menyetujui rencana pembagian total dividen tunai tahun buku 2025 sebesar Rp 5,05 triliun atau setara 70% dividend payout ratio (DPR). Persentase DPR ini lebih rendah dibandingkan dengan DPR ANTM tahun sebelumnya yang mencapai 100%. Dalam laporan Stockbit Sekuritas, jumlah tersebut mengindikasikan…

4132233f6d237942dc15899eb316d66f.jpg
Ecozone

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. PT Jayamas Medica Industri Tbk (OMED) memutuskan untuk membagikan dividen tunai final sebesar Rp 4,08 per saham dari laba tahun buku 2025. Saham OMED pada Rabu (10/6/2026) ditutup naik 0,52% di Rp 195 per saham. Sehingga jika menggunakan acuan harga ini maka potensi yield dividen OMED sebesar 2,09%. Keputusan tersebut disetujui dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang digelar pada Senin (8/6). Dengan demikian,…