Jakarta – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali melemah pada perdagangan Rabu (3/6/2026).
Di sejumlah bank besar nasional, kurs jual dolar AS bahkan telah menembus level Rp17.900 seiring dengan tekanan yang membayangi mata uang Garuda di pasar spot.
Data perbankan menunjukkan kurs e-Rate Bank Central Asia (BCA) menetapkan kurs jual dolar AS di angka Rp17.937.
Sementara itu, Bank Mandiri mematok kurs jual di level Rp17.900, dan Bank Rakyat Indonesia (BRI) mencatatkan kurs jual sebesar Rp17.920.
Di pasar valuta asing, rupiah dibuka melemah 39 poin atau 0,22 persen ke posisi Rp17.878 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp17.839.
Dalam pergerakan intraday, mata uang domestik ini bahkan sempat menyentuh level Rp17.926 per dolar AS.
Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai pelemahan rupiah dipicu oleh kombinasi sentimen global dan domestik.
Menurutnya, peningkatan permintaan dolar AS di pasar menjadi faktor utama yang menekan nilai tukar rupiah.
Ibrahim menjelaskan bahwa penguatan harga minyak mentah dunia menjadi salah satu pemicu utama tekanan tersebut.
Saat ini, harga minyak mentah WTI berada di level US$94,58 per barel, sementara Brent *crude oil* menguat ke posisi US$96,72 per barel.







