Padang – Persepsi negatif pascabencana masih menjadi tantangan utama bagi sektor pariwisata di Sumatera Barat. Kondisi ini mengemuka dalam diskusi bertajuk “Potensi Pariwisata Sumbar Pascabencana” yang berlangsung di Kupi Batigo, Padang, Minggu (31/5/2026).
Kepala Dinas Pariwisata Sumbar, dr. Lila Yanwar, menyebut bahwa dampak bencana tidak hanya berupa kerusakan fisik, melainkan juga persepsi publik yang sulit hilang meski situasi di lapangan telah membaik. Menurutnya, kesenjangan antara kondisi riil dan anggapan masyarakat menjadi kendala besar.
“Bencananya sudah selesai, tetapi persepsi masyarakat masih tertinggal. Banyak orang menganggap daerah terdampak masih belum aman dikunjungi,” ujar Lila.
Ia menegaskan bahwa banyak destinasi wisata, seperti Lembah Anai, panorama Sitinjau Lauik, hingga kawasan Solok tetap beroperasi normal. Untuk memulihkan kunjungan, ia menilai pembangunan narasi positif atau storytelling yang tepat sangat krusial di samping perbaikan infrastruktur.
“Kita harus membangun storytelling yang positif. Sumatera Barat memiliki alam luar biasa, tetapi belum selalu didukung narasi yang tepat,” tambahnya.
Terkait pemulihan kawasan, Lila mendorong penerapan konsep build back better. Strategi ini bertujuan agar area terdampak dapat dibangun kembali dengan kualitas lebih baik melalui program rehabilitasi dan rekonstruksi pemerintah.
Sementara itu, Ketua TP2DEWI Sumbar, M. Zuhrizul, menyoroti ancaman “bencana peradaban” yang dianggap lebih berbahaya daripada bencana alam. Fenomena ini terjadi ketika etika masyarakat, termasuk kebiasaan membuang sampah sembarangan di lokasi wisata, mulai memudar.
“Bencana peradaban terjadi ketika adab masyarakat mulai memudar. Itu bencana sesungguhnya bagi Sumatera Barat,” ungkap Zuhrizul.
Dari sisi literasi, Direktur Eksekutif BPPD Sumbar, Yulviadi Adek, menekankan pentingnya penguatan pemahaman kebencanaan agar masyarakat mampu beradaptasi dengan kondisi geografis daerah. Ia mengajak generasi muda untuk lebih mendalami kearifan lokal dalam mitigasi bencana.
Pemerhati pariwisata dan ahli geologi, Ade Edward, menambahkan bahwa masa depan pariwisata Sumbar harus bertumpu pada konsep resilient tourism. Ia menekankan pentingnya sinergi antara mitigasi bencana, tata ruang, dan kelestarian lingkungan agar daerah ini dapat bertransformasi menjadi destinasi yang aman dan berkelanjutan.







