Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi berpeluang mengalami teknikal rebound pada perdagangan Senin (25/5/2026), setelah tertekan sentimen negatif sepanjang pekan lalu. Meski sempat ditutup menguat 1,10% ke level 6.162,04 pada Jumat (22/5/2026), indeks secara akumulatif masih terkoreksi 8,35% dalam sepekan.
Analis BRI Danareksa Sekuritas, Reza Diofanda, menilai IHSG saat ini tengah berada di area psikologis krusial yang mendekati level terendah saat guncangan pasar tahun 2025 di rentang 5.800 hingga 5.900. Mengingat kondisi pasar yang sudah berada di zona jenuh jual (oversold), peluang pembalikan arah atau rebound terbuka lebar selama indeks mampu bertahan di atas level support tersebut.
VP Equity Retail Kiwoom Sekuritas, Oktavianus Audi, memproyeksikan pergerakan IHSG hari ini akan cenderung mixed dengan potensi penguatan terbatas. Ia menetapkan rentang support di level 5.909 dan resistance di 6.305. Sentimen positif dari kabar kemajuan pembicaraan damai antara Amerika Serikat dan Iran yang disampaikan Menteri Luar Negeri Marco Rubio menjadi salah satu katalis pendorong pasar.
Namun, investor tetap diminta mewaspadai sejumlah sentimen domestik. Selain pergerakan nilai tukar rupiah yang masih tertekan di level Rp 17.712 per dolar AS, pasar juga tengah mencermati kebijakan sentralisasi ekspor komoditas melalui PT Danantara Sumber Daya Indonesia (PT DSI). Kebijakan ini dikhawatirkan menekan margin emiten komoditas akibat keterbatasan fleksibilitas harga jual.
Reza Diofanda menambahkan bahwa pelaku pasar saat ini sedang dalam posisi wait and see. Selain memantau perkembangan regulasi ekspor, investor juga menantikan efek rebalancing indeks MSCI yang akan efektif pada 29 Mei 2026. Potensi aliran modal keluar (capital outflow) perlu diwaspadai, terutama pada saham-saham yang mengalami pengurangan bobot indeks.
Dalam kondisi ini, para analis memberikan sejumlah rekomendasi saham. Oktavianus Audi menyarankan speculative buy untuk saham INKP dengan target resistance di Rp 8.650 dan MBMA di level Rp 550.
Sementara itu, Reza Diofanda merekomendasikan strategi buy on break untuk saham MBMA di level Rp 490 dengan target resistance Rp 496 – 505. Ia juga menyarankan beli untuk saham ESSA dengan target harga Rp 725 – 750, serta trading buy untuk saham CPIN dengan target resistance di kisaran Rp 4.400 – 4.500 per saham.







