BeritaPemerintahan

Satgas PRR Bangun Jembatan Bailey, Pulihkan Akses Warga Aceh Tengah

17
×

Satgas PRR Bangun Jembatan Bailey, Pulihkan Akses Warga Aceh Tengah

Sebarkan artikel ini

Infrastruktur ini menjadi jalur penghubung vital yang sempat terputus total akibat bencana hidrometeorologi pada akhir November 2025.

Kehadiran jembatan Bailey di Kampung Linge, Kecamatan Linge, Kabupaten Aceh Tengah, Aceh, membawa harapan baru bagi ribuan warga di 5 desa yang sebelumnya sempat terisolir akibat putusnya akses utama sejak bencana hidrometeorologi yang melanda wilayah itu pada akhir November 2025. Foto : Istimewa

Aceh – Ribuan warga di lima desa di Kecamatan Linge, Kabupaten Aceh Tengah, akhirnya kembali memiliki akses transportasi yang layak setelah jembatan Bailey di Kampung Linge resmi beroperasi.

Infrastruktur ini menjadi jalur penghubung vital yang sempat terputus total akibat bencana hidrometeorologi pada akhir November 2025.

Pembangunan jembatan di atas Sungai Kala Ili tersebut diselesaikan oleh Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Pascabencana Sumatera bersama TNI pada 4 Mei 2026. Kehadiran jembatan ini memulihkan aksesibilitas warga dari Kampung Linge, Jamat, Delung Sekinel, Kutereje, dan Reje Payung menuju pusat ibu kota kabupaten di Takengon.

Tokoh masyarakat Kampung Linge, Abdul Salam, menyampaikan apresiasi atas respons cepat pemerintah dan TNI. Menurutnya, jembatan tersebut merupakan akses satu-satunya bagi warga untuk menjalankan aktivitas sehari-hari, mulai dari urusan pendidikan hingga layanan kesehatan.

“Kami sangat bersyukur jembatan ini selesai dibangun dalam waktu singkat. Kini, anak-anak bisa kembali bersekolah dan warga yang sakit dapat segera menuju fasilitas kesehatan,” ujar Abdul Salam, Rabu (20/5/2026).

Meski mobilitas warga telah pulih, masyarakat masih berharap pemerintah segera merealisasikan pembangunan jembatan permanen. Abdul Salam mengaku khawatir kondisi tanah di sekitar jembatan Bailey rentan mengalami longsor jika curah hujan tinggi kembali melanda wilayah tersebut.

Perangkat Desa Linge, Ramidinsah, menambahkan bahwa proses pembangunan jembatan ini turut melibatkan partisipasi aktif warga setempat. Sebelumnya, masyarakat terpaksa mengandalkan jembatan darurat hasil gotong royong mandiri untuk melintasi sungai setelah jembatan lama hancur diterjang bencana.