BeritaEcozone

IDPRO Proyeksikan Kapasitas Data Center Indonesia Melonjak Jadi 1,65 Gigawatt

11
×

IDPRO Proyeksikan Kapasitas Data Center Indonesia Melonjak Jadi 1,65 Gigawatt

Sebarkan artikel ini
kapasitas-data-center-di-indonesia-ditarget-tembus-1,65-gw-akhir-2026
kapasitas data center di indonesia ditarget tembus 1,65 gw akhir 2026

Jakarta – Kapasitas pusat data atau data center di Indonesia diproyeksikan melonjak signifikan hingga mencapai 1,65 gigawatt (GW) pada akhir 2024. Angka ini mencatatkan kenaikan pesat jika dibandingkan dengan total kapasitas terpasang saat ini yang berada di angka 637,24 megawatt.

Ketua Umum Asosiasi Penyedia Data Center Indonesia (IDPRO), Hendra Suryakusuma, menyatakan bahwa proyeksi tersebut merupakan cerminan dari tingginya permintaan pasar domestik terhadap infrastruktur server.

“Jadi total commissioned sudah 637,24 Megawatt, dan planned pipeline yang akan terjadi di akhir tahun itu 1,65 GW dan ini sudah didiskusikan di internal, memang seperti itu. Jadi pertumbuhannya luar biasa,” ujar Hendra dalam acara Media Masterclass bersama Schneider Electric di Jakarta, Rabu (20/5).

Hendra memaparkan, lonjakan kebutuhan ini dipicu oleh sejumlah faktor krusial, mulai dari penetrasi internet yang masif, transformasi digital pelaku UMKM, kebijakan regulasi pemerintah, hingga adopsi teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).

Menurut data yang ia sampaikan, lebih dari 80 persen dari 286 juta penduduk Indonesia saat ini telah memiliki akses internet. Hal tersebut berdampak langsung pada peningkatan volume data yang dihasilkan, diproses, hingga ditransmisikan setiap tahunnya.

Selain itu, digitalisasi pada 73 juta UMKM di tanah air yang kini semakin banyak mengintegrasikan sistem Point of Sales (POS) dengan payment gateway turut menjadi pendorong utama kebutuhan infrastruktur server yang lebih mumpuni.

Terkait regulasi, Hendra menyoroti adanya transisi aturan dari Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 82 Tahun 2012 ke PP Nomor 71 Tahun 2019. Ia menjelaskan bahwa regulasi lama mewajibkan layanan publik menempatkan pusat data di Indonesia, namun aturan baru memberikan relaksasi bagi data privat.

Kondisi tersebut membuat sejumlah perusahaan global lebih memilih membangun infrastruktur di negara tetangga. Ia mencontohkan langkah ByteDance yang justru membangun pusat data pertamanya di Johor Bahru, Malaysia.

“Pengguna TikTok di Indonesia adalah yang terbesar, tetapi server AI mereka malah berada di Malaysia dan rencananya akan dibangun juga di Thailand,” imbuh dia.

Meski demikian, adopsi teknologi AI kini menjadi pemacu utama pembangunan fasilitas baru di dalam negeri. Beberapa proyek besar mulai merealisasikan pembangunan pusat data yang dirancang khusus untuk kebutuhan AI, di antaranya proyek 120 MW dari BW Digital di Batam dan 120 MW dari Princeton Digital Group di Cikarang.