Ecozone

Rupiah Diprediksi Kembali Melemah pada Perdagangan Pekan Depan

82
×

Rupiah Diprediksi Kembali Melemah pada Perdagangan Pekan Depan

Sebarkan artikel ini
7f7c163a334eb705c429ad1fdafb1e98.jpg
7f7c163a334eb705c429ad1fdafb1e98.jpg

Jakarta – Nilai tukar rupiah ditutup melemah di level 17.382 per dolar Amerika Serikat pada perdagangan akhir pekan, Jumat (8/5/2026). Mata uang Garuda tercatat merosot 49 poin setelah terus tertekan oleh penguatan dolar AS sepanjang pekan ini.

Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia, posisi rupiah sempat berada di atas level 17.400 per dolar AS pada 5 dan 6 Mei 2026, setelah sebelumnya dibuka di angka 17.368 pada Senin (4/5/2026).

Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuabi memproyeksikan pergerakan mata uang RI pada Senin (11/5/2026) akan tetap fluktuatif. Rupiah diperkirakan masih akan berada dalam tekanan dengan rentang perdagangan antara 17.380 hingga 17.430 per dolar AS.

Ibrahim menjelaskan, penguatan dolar AS dipicu oleh ketegangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Situasi ini mengancam stabilitas di Selat Hormuz yang merupakan jalur utama transit minyak dan gas dunia.

“Pertempuran yang kembali pecah antara AS dan Iran menghancurkan harapan gencatan senjata dan memicu kekhawatiran global terhadap pasokan energi,” ujar Ibrahim dalam keterangan resminya.

Selain faktor eksternal, sentimen domestik turut menekan rupiah. Hingga 31 Maret 2026, posisi utang pemerintah tercatat mencapai 9.920,42 triliun, atau naik sekitar 3 persen dibandingkan akhir Desember 2025 sebesar 9.637,9 triliun. Posisi utang ini setara dengan 40,75 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Kondisi fiskal juga menunjukkan tekanan dengan defisit APBN pada kuartal pertama 2026 yang mencapai 240,1 triliun atau 0,93 persen terhadap PDB. Sementara realisasi pembiayaan utang telah mencapai 258,7 triliun.

Ibrahim menekankan pentingnya penguatan penerimaan negara, terutama dari sektor perpajakan. Hal ini menyusul adanya peringatan dari lembaga pemeringkat internasional kepada Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa terkait rasio pembayaran bunga utang terhadap PDB. Langkah optimalisasi pendapatan menjadi kunci untuk menjaga kepercayaan investor di tengah volatilitas pasar global.