Berita

Iran Kembali Tutup Selat Hormuz Akibat Blokade Ekonomi Amerika Serikat

114
×

Iran Kembali Tutup Selat Hormuz Akibat Blokade Ekonomi Amerika Serikat

Sebarkan artikel ini
6680b6b7a0a07095dcb546d21a6463d1.jpg
6680b6b7a0a07095dcb546d21a6463d1.jpg

Teheran – Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) kembali memberlakukan pengawasan ketat terhadap Selat Hormuz, menyusul kebuntuan negosiasi dengan Amerika Serikat. Langkah ini menegaskan bahwa kendali atas jalur air strategis tersebut kini berada di bawah manajemen penuh angkatan bersenjata Iran.

Keputusan tersebut diambil sebagai respons atas blokade yang terus dilakukan oleh Amerika Serikat terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Pihak IRGC menyatakan bahwa kebijakan ini akan tetap berlaku selama Washington tidak memberikan jaminan kebebasan bagi kapal-kapal yang keluar maupun masuk ke wilayah Iran.

Ketegangan di lapangan memuncak setelah laporan mengenai insiden serangan terhadap kapal tanker dan kapal kontainer yang sedang melintas di selat tersebut. Kondisi ini membuat situasi maritim menjadi tidak menentu bagi para pelaku pelayaran internasional.

Data menunjukkan bahwa aktivitas di Selat Hormuz sangat fluktuatif. Sejumlah kapal tanker minyak dan gas terlihat berbalik arah sebelum memasuki perairan tersebut, sementara kapal lainnya mencoba melintas di tengah ketidakpastian informasi dari pihak-pihak yang bertikai.

Situasi ini sekaligus memupus optimisme Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang sebelumnya mengklaim bahwa kesepakatan damai untuk mengakhiri konflik sudah sangat dekat. Sebelumnya, Trump sempat merayakan pembukaan kembali selat tersebut pada Jumat lalu, meski tetap mengancam akan melanjutkan blokade dan aksi militer jika Iran tidak menyetujui kesepakatan terkait program nuklir mereka.

Namun, pemerintah Iran membantah klaim tersebut dan menegaskan belum ada jadwal pasti untuk putaran negosiasi damai selanjutnya. Teheran menuding Amerika Serikat tidak memiliki iktikad baik dan sering kali mengkhianati proses diplomasi yang sedang berjalan.

Ketidakpastian informasi antara Washington dan Teheran berdampak langsung pada sektor logistik global. Pakar pelayaran maritim menilai kerancuan narasi di lapangan membuat banyak pemilik kapal enggan mengambil risiko untuk melintasi jalur tersebut.

Konflik antara kedua negara ini sebelumnya memuncak pada 28 Februari lalu melalui serangan bersama AS dan Israel ke Iran, yang dibalas oleh Teheran dengan menyasar aset militer AS di kawasan tersebut. Saat ini, wilayah tersebut praktis berada dalam status jeda perang pasca-gencatan senjata yang dimediasi oleh Pakistan.