Jakarta – Lonjakan harga kemasan plastik memicu kenaikan harga produk makanan dan minuman di pasar domestik. Ketergantungan industri yang tinggi terhadap kemasan plastik, ditambah dengan terbatasnya pasokan bahan baku, memaksa produsen menyesuaikan harga jual produk ke konsumen.
Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI) Adhi S. Lukman menjelaskan, kenaikan harga plastik yang mencapai 30 persen hingga 100 persen berdampak signifikan pada harga pokok produksi. Kondisi ini membuat pelaku industri terjepit karena margin keuntungan tergerus tajam.
Tingginya Ketergantungan Industri
Adhi mengungkapkan bahwa hampir seluruh produk makanan dan minuman mengandalkan plastik sebagai kemasan utama. Ketika harga kemasan melonjak, komponen biaya produksi ikut terdongkrak drastis. Sebagai contoh, jika kontribusi kemasan mencapai 25 persen dari total harga pokok, kenaikan harga plastik hingga 100 persen akan memicu inflasi harga produk yang cukup besar.
“Industri kesulitan menjual produk karena harga menjadi mahal, sementara daya beli masyarakat terbatas. Beberapa komoditas dasar seperti beras dan minyak goreng bahkan sudah mengalami kenaikan harga bukan karena komoditasnya yang naik, melainkan akibat mahalnya biaya kemasan,” ujar Adhi di Jakarta, Senin (13/4/2026).
Krisis Stok Bahan Baku
Selain lonjakan harga, industri kini dihadapkan pada ancaman kelangkaan pasokan bahan baku. Sejumlah pemasok telah memberikan sinyal bahwa stok bahan kemasan plastik diprediksi akan habis pada periode Mei hingga Juni mendatang.
Kondisi ini dipicu oleh penurunan produksi di sektor industri hulu plastik dalam negeri yang mencapai 30 persen. Hal tersebut terjadi karena industri hulu juga masih bergantung pada impor komponen untuk memproduksi bahan baku plastik kemasan.
Solusi Impor
Guna menekan dampak lebih buruk terhadap sektor industri, GAPMMI mendesak pemerintah untuk segera membuka opsi impor bahan baku plastik dari negara-negara alternatif. Langkah ini dinilai sebagai jalan keluar satu-satunya agar operasional industri makanan dan minuman tidak terhenti akibat ketiadaan bahan kemasan.
“Mau tidak mau kita harus impor. Jika pasokan dalam negeri tidak tersedia dan produksi hulu terus menurun, maka ketersediaan barang di pasar akan terancam dalam beberapa bulan ke depan,” tegas Adhi.
Saat ini, para pelaku usaha terus berupaya melakukan efisiensi guna menekan kerugian, meski ruang untuk menaikkan harga jual di tingkat konsumen tetap terbatas demi menjaga stabilitas pasar.







