News Feed Indonesia

Investasi yang Cocok Untuk Tahun Depan, Apa Saja?

FENESIA – Sepanjang tahun ini dunia investasi menghadapi gejolak dan ketidakpastian akibat pandemi Covid-19 yang menimpa seluruh dunia.

Namun pada akhir tahun ini, perekonomian dunia mulai menggeliat angin segar di pasar modal mulai terasa. Ini dia investasi yang cocok untuk tahun 2021.

Ivan Jaya selaku Head of Wealth Management & Premier Banking Bank Commonwealth mengungkapkan bahwa berita distribusi vaksin COVID-19 pada akhir tahun ini memunculkan optimisme pada pasar.

Dia mengatakan reksa dana saham, pendapatan tetap, dan obligasi masih cocok untuk investor yang fokus mendapatkan fixed return untuk diversifikasi investasi.

Ivan mengungkapkan aset saham yang dapat diwakilkan oleh reksa dana saham adalah pilihan investasi yang masih menarik di tahun 2021.

“Pemilihan reksa dana saham dibandingkan saham karena manager investasi akan melakukan pemilihan portofolio dan pendekatan portofolio untuk memberikan keuntungan diversifikasi dibandingkan membeli saham langsung,” ujar dia dalam siaran pers, Kamis (24/2020).

Apalagi saat ini ada beberapa katalis positif untuk kelas aset saham selain distribusi vaksin Covid-19, yaitu Omnibus Law Cipta Kerja yang disetujui pada Oktober lalu bisa mendorong modal asing masuk ke Indonesia.

Kemudian Sovereign Wealth Fund (SWF) yang fokus pada pengembangan infrastruktur di Indonesia diperkirakan memiliki multiplier efek pada pengembangan ekonomi secara keseluruhan. Serta aliran dana asing akan masuk kembali ke developing market termasuk Indonesia.

Kemudian suku bunga yang mendekati 0% di developed market akan mendorong investor untuk mencari aset yang memberikan yield lebih tinggi.

Ia menjelaskan, “Dengan adanya katalis positif tersebut, kami berharap ekonomi akan turn around di 2021 dalam story recovery, kelas aset saham biasanya akan berlari lebih cepat.”

Tetapi, investasi juga harus terdiversifikasi untuk mengurangi risiko. Banyak analis memperkirakan tahun depan Bank Indonesia (BI) akan melakukan 1-2 x pemotongan bunga. Sedangkan kinerja obligasi di tahun 2020 ditopang oleh pemotongan bunga acuan 5 kali dengan total 1,25%.

“Pergerakan harga obligasi akan berbanding terbalik dengan tingkat bunga, apalagi tingkat bunga punya kecenderungan untuk turun maka akan berdampak positif untuk harga obligasi. Dengan pemotongan yang lebih terbatas maka potensi upside tahun depan akan terbatas,” jelasnya.

Ivan mengatakan, investor harus berhati-hati karena akan selalu ada volatilitas di pasar modal. Maka dari itu, diversifikasi menjadi sangat dibutuhkan. Misalnya investor juga bisa berinvestasi melalui reksa dana pendapatan tetap untuk eksposur ke obligasi pemerintah.

REKOMENDASI
Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.