Ecozone

Syam Basrijal Dorong Pemulihan Batin, Bangun Ketahanan Sosial Indonesia

69
×

Syam Basrijal Dorong Pemulihan Batin, Bangun Ketahanan Sosial Indonesia

Sebarkan artikel ini
gagas-‘human-security’,-restorasi-jiwa-indonesia-dorong-pemulihan-batin-jadi-agenda-negara
gagas ‘human security’, restorasi jiwa indonesia dorong pemulihan batin jadi agenda negara

Jakarta – Pendekatan keamanan nasional yang selama ini berfokus pada kontrol wilayah dan kekuatan fisik dinilai kurang efektif.

Syam Basrijal, Founder Restorasi Jiwa Indonesia dan Satya Mindcare, menekankan pentingnya kapasitas psikologi kolektif masyarakat.

Menurutnya, keamanan sejati bukan hanya tentang ketiadaan konflik.

Syam mengingatkan bahwa keamanan yang hanya berfokus pada penertiban tanpa menyentuh dimensi psikologis adalah ibarat menutup retakan tanpa memperbaiki fondasi.

Kegagalan menyentuh akar masalah batin hanya akan membuat stabilitas tampak tenang di permukaan, namun menyimpan bara yang siap meledak kapan saja.

“Keamanan yang hanya berfokus pada penertiban tanpa menyentuh dimensi psikologis ibarat menutup retakan tanpa memperbaiki fondasinya. Dan keamanan tanpa pemulihan batin hanya akan menunda ledakan berikutnya,” tegas Syam, Minggu (22/2/2026).

Syam mendorong pergeseran paradigma menuju Human Security atau Keamanan Manusia.

Konsep ini menekankan bahwa keamanan bukan hanya soal kedaulatan negara.

Namun, juga tentang memastikan individu bebas dari rasa takut, kemiskinan, diskriminasi, hingga ketidakpastian.

Menurutnya, masyarakat yang merasa aman secara psikologis akan lebih mampu membangun dialog yang sehat.

Sebaliknya, hilangnya rasa aman akan melahirkan respons sosial yang cenderung defensif dan agresif.

“Keamanan manusia berarti memastikan akses terhadap pendidikan, kesehatan, pekerjaan, serta ruang dialog yang adil. Tanpa dimensi ini, pendekatan keamanan hanya menyentuh permukaan masalah,” lanjutnya.

Syam menyoroti keberadaan trauma kolektif dalam konflik berkepanjangan.

Trauma yang diwariskan antar-generasi ini sering kali menjelma menjadi ketidakpercayaan terhadap otoritas serta prasangka antar-kelompok.

Ia berargumen bahwa pembangunan fisik tidak akan pernah cukup untuk memulihkan sosial jika tidak dibarengi dengan penyembuhan batin yang sistematis.

“Jika trauma kolektif tidak diakui dan dipulihkan, maka kebijakan apa pun—sebaik apa pun dirancang—akan menghadapi resistensi emosional. Pemulihan sosial tidak cukup melalui pembangunan fisik. Ia membutuhkan penyembuhan batin yang sistematis,” ungkap Syam.

Melalui Restorasi Jiwa Indonesia dan Satya Mindcare, Syam menawarkan model rekonsiliasi yang melampaui seremoni formal.

Rekonsiliasi berbasis kesadaran mengajak komunitas mengenali luka tanpa penyangkalan dan membangun empati lintas kelompok.

Syam juga mengaitkan pentingnya pendidikan emosional sebagai benteng pencegahan radikalisasi.

Ia menilai radikalisasi sering kali berakar pada luka yang tidak terselesaikan dan rasa tidak diakui oleh sistem.

“Ketahanan sosial dibangun dari bawah. Ia tidak bisa dipaksakan dari atas. Mengajarkan anak dan remaja untuk mengenali emosinya serta mengelola konflik secara sehat akan memperkuat imunitas sosial terhadap ideologi kekerasan,” jelasnya.

Syam menekankan bahwa keberagaman Indonesia bisa menjadi kekuatan besar jika dikelola dengan kesadaran.

Tanpa itu, keberagaman hanya akan menjadi sumber gesekan permanen.

Ketahanan sosial, bagi Syam, bukan sekadar proyek keamanan, melainkan proyek kemanusiaan yang utuh.