Berita

Surabaya Genjot Infrastruktur Kendali Banjir Rob, Tanggul Tertunda

83
×

Surabaya Genjot Infrastruktur Kendali Banjir Rob, Tanggul Tertunda

Sebarkan artikel ini
pemkot-surabaya-tunda-bangun-tanggul-laut-untuk-atasi-banjir-rob
pemkot surabaya tunda bangun tanggul laut untuk atasi banjir rob

Surabaya – Warga pesisir Surabaya harus bersabar. Pemkot Surabaya menunda pembangunan tanggul laut sebagai solusi jangka panjang atasi banjir rob.

Sebagai gantinya, Pemkot Surabaya akan fokus memaksimalkan infrastruktur yang sudah ada.

Prioritas utama adalah optimalisasi rumah pompa, pintu air, dan bozem.

Kepala Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM) Kota Surabaya, Syamsul Hariadi, menjelaskan bahwa tanggul laut adalah solusi ideal.

Namun, menurutnya, optimalisasi infrastruktur yang ada lebih realistis untuk dilakukan saat ini.

“Penanganan banjir rob itu memang harus ada tanggul laut, kemudian dilengkapi dengan pintu air dan pompa air,” kata Syamsul.

Syamsul menjelaskan, Surabaya Timur sudah memiliki infrastruktur pengendali banjir yang lengkap. Ia optimistis banjir rob di wilayah tersebut dapat diminimalisasi.

Kondisi berbeda terjadi di Surabaya Barat. Wilayah seperti Kali Krembangan, Kalianak, dan Kali Sememi belum memiliki fasilitas pintu air maupun pompa air.

Akibatnya, banjir rob masih sering terjadi di wilayah tersebut.

“Jadi kita agendakan untuk rumah pompa di tiga atau empat sungai yang menuju ke laut di wilayah barat itu,” ujar Syamsul.

Saat ini, wilayah Surabaya Barat yang sudah dilengkapi pompa air adalah Balong dan Kandangan.

Sementara itu, Asemrowo, Kalianak, dan Tambak Langon masih belum memiliki fasilitas tersebut.

“Nanti kita agendakan [pembangunan] pintu air dan rumah pompa di sana,” paparnya.

Syamsul menambahkan, pembangunan tanggul laut secara menyeluruh belum bisa direalisasikan karena bersifat kompleks dan tidak semua wilayah pesisir membutuhkannya.

Sebagian tanah di wilayah barat Surabaya telah ditinggikan oleh pengembang. Pemkot Surabaya tinggal melengkapi infrastruktur pengendalian air.

Bozem berfungsi sebagai tempat penampungan sementara air dari darat saat bersamaan dengan pasang air laut.

“Kalau hujan, air masuk ke bozem, kemudian dipompa ke laut saat pasang. Tapi kalau surut, air dari bozem bisa langsung mengalir,” jelasnya.

Surabaya memiliki tiga bozem utama, yaitu Bratang, Kalidami, dan Morokrembangan. Masing-masing bozem tersebut mampu menampung hingga 80 ribu meter kubik air.

Sejumlah wilayah di pesisir Kota Surabaya, seperti Jalan Kalianak, Kelurahan Morokrembangan, Kecamatan Krembangan, kerap dilanda banjir rob.

Banjir tersebut menyebabkan kemacetan dan mengganggu aktivitas warga.

Warga berharap pemerintah segera mengambil tindakan untuk mengatasi banjir rob. Mereka berharap solusi yang diberikan tidak hanya berupa pengerukan sungai, tetapi juga pembangunan infrastruktur yang lebih efektif.