Berita

Sengketa Greenland: Trump Incar, AS Berupaya Kendalikan, Siapa Pemilik Sebenarnya?

240
×

Sengketa Greenland: Trump Incar, AS Berupaya Kendalikan, Siapa Pemilik Sebenarnya?

Sebarkan artikel ini
eebe595a969dea55ec6b7a3dc227f91a.jpg
eebe595a969dea55ec6b7a3dc227f91a.jpg

Fenesia – Polemik pencaplokan Greenland kembali mencuat setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengulangi keinginannya. Pernyataan ini memperpanas hubungan diplomatik dengan Denmark dan Greenland.

Mette Frederiksen, Perdana Menteri Denmark, sebelumnya telah meminta Trump untuk menghentikan segala bentuk “ancaman” terkait masa depan pulau otonom tersebut. Greenland sendiri merupakan wilayah semi-otonom Denmark yang telah dikuasai selama kurang lebih 300 tahun.

Penolakan Keras dari Greenland

Jens Frederik Nielsen, PM Greenland, dengan tegas menolak wacana penguasaan oleh AS dan menyebutnya sebagai “fantasi”. Ia menegaskan bahwa Greenland terbuka untuk dialog, tetapi harus dilakukan melalui jalur yang benar dan menghormati hukum internasional.

“Sudah cukup. Tidak ada lagi tekanan. Tidak ada lagi sindiran. Tidak ada lagi fantasi aneksasi,” tegas Nielsen.

Denmark Tegaskan Kedaulatan

PM Denmark, Mette Frederiksen, juga menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak memiliki hak untuk mencaplok wilayah mana pun di dalam Kerajaan Denmark. Ia menambahkan bahwa Denmark, termasuk Greenland, merupakan anggota NATO dan berada di bawah jaminan keamanan aliansi tersebut.

Kekhawatiran Penggunaan Kekuatan

Situasi ini memicu kekhawatiran bahwa AS dapat mempertimbangkan penggunaan kekuatan untuk menguasai Greenland, mengingat pernyataan Trump sebelumnya yang tidak sepenuhnya menampik kemungkinan tersebut. Trump berulang kali menilai Greenland penting bagi keamanan AS karena lokasinya yang strategis dan cadangan mineralnya.

Otonomi Luas dan Penolakan Bergabung AS

Greenland memiliki otonomi luas sejak 1979, meskipun urusan pertahanan dan kebijakan luar negeri masih di bawah kendali Denmark. Sebagian besar warga Greenland mendukung kemerdekaan penuh di masa depan, namun jajak pendapat menunjukkan penolakan keras terhadap kemungkinan menjadi bagian dari Amerika Serikat.

Reaksi Internasional

Keir Starmer, PM Inggris, ikut angkat bicara dan menegaskan bahwa hanya Denmark dan Greenland yang berhak menentukan nasib wilayah tersebut. Sementara itu, perwakilan Uni Eropa menolak klaim Trump bahwa Uni Eropa membutuhkan AS untuk menguasai Greenland.