Jakarta – Gejolak IHSG memicu perdebatan tentang dominasi lembaga pemeringkat global di pasar saham Indonesia. Rencana MSCI mengeluarkan sejumlah emiten besar dari pemeringkatannya menjadi pemicu.
MSCI beralasan keputusan itu karena masalah free float, likuiditas riil, dan transparansi emiten di BEI. Kebijakan ini berdampak pada pergerakan pasar dan memicu volatilitas.
Ketua Badan Anggaran DPR RI, Said Abdullah, menilai dinamika ini menunjukkan kepercayaan pada pasar saham Indonesia belum hilang.
Menurutnya, pembalikan arah pasar di tengah tekanan jual asing adalah sinyal positif. Pelaku pasar masih melihat prospek bursa nasional.
Said menilai evaluasi MSCI harus dibaca sebagai koreksi konstruktif. Otoritas bursa, OJK, dan pelaku pasar harus menangkap pesan ini untuk memperkuat fondasi pasar modal.
“Para pihak ini harus berbenah dan membuka diri untuk menerima koreksi yang konstruktif dari siapa pun, terutama terkait pembenahan administrasi yang disarankan oleh MSCI,” ujar Said.
Said mengingatkan agar penilaian MSCI tidak jadi satu-satunya rujukan. Ia menegaskan pentingnya lembaga pemeringkat alternatif untuk melengkapi laporan MSCI.
“Dalam dunia bisnis, praktik second opinion adalah hal yang wajar,” katanya.
Dominasi lembaga tertentu membuat rekomendasinya diperlakukan seperti “fatwa”. Padahal, pasar seharusnya rasional, matematis, dan terbuka terhadap perbedaan pandangan.
OJK telah menerbitkan sejumlah lembaga pemeringkat kredibel, baik asing maupun domestik.
Said menyinggung rencana FTSE merilis laporan pemeringkatan pada Februari 2026 sebagai alternatif.
Said mengingatkan agar penilaian MSCI dibaca dalam konteks pasar saham Indonesia yang masih dangkal. Saat ini, jumlah investor saham domestik baru sekitar 19 juta.
Said khawatir gejolak pasar yang dipicu penilaian MSCI berdampak besar bagi investor ritel, khususnya pemula.
Pada Rabu (28/1), IHSG anjlok 7,3 persen dan memaksa otoritas bursa memberlakukan trading halt. Tekanan berlanjut pada Kamis (29/1), ketika IHSG sempat terperosok hingga minus 8,5 persen sebelum berangsur pulih dan ditutup melemah 1,76 persen.
Dana asing tercatat keluar mencapai Rp6,12 triliun.












