Ekonomi

Rupiah Melemah, Kinerja Ekspor Indonesia Justru Tertekan 5,73 Persen

11
×

Rupiah Melemah, Kinerja Ekspor Indonesia Justru Tertekan 5,73 Persen

Sebarkan artikel ini
5f227f5fe75cd932d73b72a322a7f5e1.jpg
5f227f5fe75cd932d73b72a322a7f5e1.jpg

Jakarta – Kinerja ekspor Indonesia sepanjang Mei 2026 mengalami tekanan berat meskipun nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat terus berada dalam tren pelemahan.

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa nilai ekspor nasional pada periode tersebut merosot sebesar 5,73 persen dibandingkan dengan catatan pada periode yang sama tahun lalu.

Total nilai ekspor Indonesia pada Mei 2026 tercatat sebesar US$ 23,20 miliar.

Sektor migas menjadi salah satu pemberat utama dengan capaian hanya US$ 0,76 miliar, yang berarti anjlok hingga 31,76 persen secara tahunan.

Sementara itu, ekspor nonmigas juga menunjukkan tren serupa dengan penurunan sebesar 4,50 persen menjadi US$ 22,45 miliar.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, mengungkapkan bahwa penurunan nilai ekspor secara tahunan ini didorong oleh melemahnya performa sejumlah komoditas unggulan.

Penurunan untuk nilai ekspor Mei 2026 secara tahunan terutama didorong oleh penurunan nilai ekspor nonmigas pada beberapa komoditas, ujar Ateng dalam konferensi pers, Rabu (1/7).

Data BPS menunjukkan bahwa anjloknya kinerja ekspor dipicu oleh penurunan tajam pada komoditas logam mulia dan perhiasan atau kode HS71 yang mencapai 59,35 persen.

Selain itu, sektor bijih logam, terak, dan abu atau HS26 merosot drastis hingga 99,25 persen.

Komoditas besi dan baja yang sebelumnya menjadi andalan juga tercatat turun sebesar 14,68 persen.

Pelemahan kinerja ini merata di hampir seluruh sektor ekonomi utama.

Sektor industri pengolahan mengalami penurunan sebesar 3,59 persen dan menjadi kontributor terbesar bagi kontraksi ekspor nonmigas.

Di sisi lain, sektor pertambangan mencatatkan penurunan sebesar 7,03 persen.

Kondisi lebih memprihatinkan terjadi pada sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan yang merosot hingga 20,43 persen.

Secara kumulatif dari Januari hingga Mei 2026, ekspor besi dan baja turun 1,61 persen, sementara batu bara melemah 4,95 persen.

Satu-satunya sektor yang menunjukkan ketahanan adalah ekspor minyak kelapa sawit atau CPO dan turunannya yang masih mampu tumbuh sebesar 7,71 persen.

Fenomena ini menjadi anomali karena pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh level Rp 18.000 per dolar AS seharusnya memberikan insentif bagi eksportir.

Namun, pelemahan kurs tersebut ternyata belum mampu mengompensasi tekanan yang berasal dari perlambatan permintaan di pasar global.

Penurunan harga sejumlah komoditas di pasar internasional semakin memperburuk situasi bagi neraca perdagangan nasional.

Data menunjukkan bahwa ekspor ke tiga pasar utama Indonesia, yakni Tiongkok, Amerika Serikat, dan India, juga mengalami pelemahan signifikan.

Ketiga negara tersebut menyumbang 44,20 persen terhadap total ekspor nonmigas Indonesia selama periode Januari hingga Mei 2026.

Perlambatan ekonomi di negara-negara tujuan utama tersebut pada akhirnya memberikan dampak langsung terhadap volume perdagangan luar negeri Indonesia.