Semarang – Produsen tempe dan tahu di Kota Semarang, Jawa Tengah, terpaksa menyusutkan ukuran produk mereka sebagai siasat menghadapi lonjakan harga bahan baku. Langkah ini diambil agar harga jual tetap stabil di tingkat konsumen di tengah kenaikan harga kedelai dan plastik pembungkus.

Adib Mukharam, pemilik pabrik tempe di Pandean Lamper, mengungkapkan bahwa harga kedelai terus merangkak naik secara bertahap. Dari Rp8.500 per kilogram pada Januari 2026, kini harga kedelai mencapai Rp10.250 per kilogram.

Menurut Adib, kenaikan harga kedelai dipicu oleh penguatan kurs dolar yang menyentuh angka Rp17 ribu. Selain kedelai, beban produksi juga membengkak akibat kenaikan harga plastik pembungkus yang melonjak drastis dari Rp550 ribu menjadi Rp1.750.000 per rol.

Meski biaya produksi meningkat, Adib enggan menaikkan harga jual karena khawatir akan kehilangan pelanggan di pasar ritel dan toko sayur. Sebagai gantinya, ia mengurangi gramasi tempe dari 450 gram menjadi 400 gram untuk produk seharga Rp5.000.

“Kalau kami menaikkan harga, akan susah dijual ke ritel atau toko sayur. Jadi harganya tetap sama, tapi gramasi atau beratnya kami turunkan,” ujar Adib, Sabtu (11/4/2026).

Adib memastikan produksi di pabriknya yang mencapai 650 kilogram per hari tetap berjalan normal berkat adanya pelanggan tetap. Ia berharap pemerintah dapat segera menstabilkan harga bahan baku agar daya beli masyarakat tetap terjaga.

Kondisi serupa juga dialami oleh para produsen tahu di wilayah Jomblang, Kota Semarang, yang turut merasakan dampak kenaikan harga bahan baku tersebut.

Semarang – Produsen tempe dan tahu di Kota Semarang, Jawa Tengah, terpaksa menyusutkan ukuran produk mereka sebagai siasat menghadapi lonjakan harga bahan baku. Langkah ini diambil agar harga jual tetap stabil di tingkat konsumen di tengah kenaikan harga kedelai dan plastik pembungkus.

Adib Mukharam, pemilik pabrik tempe di Pandean Lamper, mengungkapkan bahwa harga kedelai terus merangkak naik dari Rp8.500 per kilogram pada Januari 2026 menjadi Rp10.250 per kilogram saat ini. Menurutnya, kenaikan tersebut dipicu oleh penguatan kurs dolar yang menyentuh angka Rp17 ribu.

Selain kedelai, beban produksi semakin berat akibat lonjakan harga plastik pembungkus. Harga plastik per rol kini melonjak drastis dari Rp550 ribu menjadi Rp1.750.000.

“Kalau kami menaikkan harga, akan susah dijual ke ritel atau toko sayur.

83175 mtwzykyk00gmmtal3n5kvxmf79fnutdz

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *