Berita

Prabowo Minta Maaf, Absen di COP 30 Brasil Mendatang

75
×

Prabowo Minta Maaf, Absen di COP 30 Brasil Mendatang

Sebarkan artikel ini
57ae0a896ec557ac2b63b3054f5604b9.jpg
57ae0a896ec557ac2b63b3054f5604b9.jpg

Jakarta – Presiden Prabowo Subianto menyatakan tidak bisa menghadiri Konferensi Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa, United Nations Climate Change Conference atau Conference of the Parties (COP) 30 di Belem, Brasil, pada November 2025. Ia telah menyampaikan permohonan maaf langsung kepada Presiden Brasil Luiz Inácio Lula da Silva sebagai tuan rumah COP30, namun akan mengutus delegasi yang kuat sebagai perwakilan Indonesia.

Pernyataan tersebut disampaikan Prabowo dalam pertemuan bersama Lula da Silva di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis, 23 Oktober 2025. “Saya tadi minta maaf mungkin saya sulit hadiri COP 30 di Belem, Brasil. Tapi saya akan kirim delegasi yang kuat untuk hadiri itu dengan keputusan kami untuk mendukung inisiatif-inisiatif dari Brasil,” ujar Prabowo.

Mantan Menteri Pertahanan itu menjelaskan bahwa COP 30 merupakan kegiatan yang bertujuan mengumpulkan dana investasi untuk membantu melestarikan hutan tropis. Pemerintah Indonesia, kata Prabowo, mendukung tindakan tersebut. “Kami mendukung Brasil dan kami komitmen berapa dana yang Brasil akan investasi, maka Indonesia akan investasi di dana tersebut,” tambahnya.

COP 30 akan berlangsung di Brasil dari 10 hingga 21 November 2025. Namun, Indonesia masih belum menyerahkan dokumen Second Nationally Determined Contribution (Second NDC) untuk periode 2031–2035. Padahal, tenggat waktu penyerahan dokumen tersebut telah terlewati pada September lalu. Meskipun demikian, pemerintah memastikan bahwa draf dokumen tersebut sudah disiapkan.

Direktur Pembangunan Ekonomi dan Lingkungan Hidup Kementerian Luar Negeri, Tri Purnajaya, mengatakan bahwa Indonesia tetap berkomitmen mencapai target Net Zero Emission (NZE) pada 2060 atau lebih cepat. Diplomasi iklim Indonesia diarahkan untuk memastikan prinsip Common but Differentiated Responsibilities-Respective Capabilities (CBDR-RC) serta Just and Equitable Transition terakomodasi dalam upaya aksi global menghadapi perubahan iklim.

Menurut Tri, upaya realisasi komitmen pengurangan gas emisi rumah kaca harus disesuaikan dengan peningkatan kesejahteraan rakyat, kemandirian energi, dan ketahanan lingkungan atau pangan. “Sebenarnya drafnya sudah ada, saya masih optimistis. Ini kan COP masih beberapa minggu lagi ya,” kata Tri dalam sebuah diskusi yang digelar secara daring, Selasa, 14 Oktober 2025. Ia menambahkan, Indonesia bukan satu-satunya negara yang belum menyerahkan dokumen SNDC, baru sekitar setengah dari negara-negara yang menyepakati Perjanjian Paris yang telah melakukannya.

Tri berharap penyusunan dokumen Second NDC dapat segera rampung sebelum pelaksanaan COP 30. Ia menilai dokumen ini penting bagi Indonesia dan dunia untuk menunjukkan komitmen yang konsisten terhadap target iklim nasional yang dinilainya cukup ambisius. “Memang set targetnya lumayan ambisius dan mudah-mudahan juga bisa segera disepakati,” tuturnya.