Karawang – Presiden RI Prabowo Subianto resmi meluncurkan mandatori biodiesel B50 di Rest Area KM 57, Karawang, Jawa Barat, Kamis (9/7/2026).
Kebijakan ini diproyeksikan mampu menghemat devisa negara hingga Rp 170 triliun atau sekitar 10 miliar dolar AS per tahun.
Prabowo menyatakan penghematan tersebut merupakan hasil optimalisasi pemanfaatan sumber daya alam nasional.
“Kita sekarang sudah bisa menghemat devisa uang keluar Rp 170 triliun atau 10 miliar dolar AS,” ujar Prabowo.
Langkah strategis ini bertujuan memperkuat ketahanan energi sekaligus menekan ketergantungan terhadap impor bahan bakar minyak.
Pemerintah juga berkomitmen melakukan efisiensi sektor lain untuk memperkokoh keuangan negara.
Salah satu upaya konkret adalah pemberantasan penyelundupan komoditas tambang, seperti timah, yang diprediksi menghemat devisa sebesar 2 hingga 3 miliar dolar AS.
Presiden menegaskan, rangkaian efisiensi tersebut merupakan bagian dari strategi besar mewujudkan kemandirian ekonomi nasional.
Menurut dia, kekayaan alam Indonesia harus dikelola secara tepat guna memberikan manfaat maksimal bagi kesejahteraan rakyat.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menambahkan, implementasi B50 akan mengurangi kebutuhan impor solar secara signifikan.
Pencapaian ini melampaui efisiensi kebijakan sebelumnya, yakni mandatori B40, yang mencatatkan penghematan devisa sebesar Rp 133,3 triliun.
Program B50 diproyeksikan mampu meningkatkan nilai tambah minyak sawit mentah (CPO) dari Rp 20,92 triliun menjadi Rp 23,49 triliun.
Selain sisi ekonomi, mandatori ini diperkirakan menyerap sekitar 2,1 juta tenaga kerja.
Dari aspek lingkungan, penggunaan B50 diharapkan mampu menekan emisi gas rumah kaca hingga 44,46 juta ton CO2 pada 2026.







