BeritaPeristiwa

Pleno Syuriyah PBNU Ganti Gus Yahya

188
×

Pleno Syuriyah PBNU Ganti Gus Yahya

Sebarkan artikel ini
a5efc97028b861e32bfe8fc2b5cf44ac.jpg
a5efc97028b861e32bfe8fc2b5cf44ac.jpg

Jakarta – Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dilanda gejolak internal menyusul keputusan Rapat Pleno Syuriyah yang menetapkan Zulfa Mustofa sebagai Penjabat (Pj) Ketua Umum PBNU, menggantikan posisi Yahya Cholil Staquf.

Keputusan kontroversial ini, yang diambil di Hotel Sultan, Jakarta, Selasa, 9 Desember 2025, langsung dibantah keras oleh Gus Yahya, yang menganggap pleno tersebut tidak sah dan melanggar Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) organisasi.

Zulfa Mustofa akan memimpin organisasi Islam terbesar di Indonesia tersebut hingga muktamar selanjutnya yang direncanakan berlangsung pada tahun 2026, menyelesaikan sisa periode kepengurusan sebelumnya.

Penunjukan ini menandai perubahan signifikan dalam struktur kepemimpinan PBNU di tengah dinamika internal.

Di sisi lain, Yahya Cholil Staquf, yang akrab disapa Gus Yahya, menegaskan bahwa Rapat Pleno Syuriyah PBNU yang melengserkannya tidak sah secara aturan. Menurutnya, pleno tidak bisa disebut sah karena hanya mengundang Syuriyah dan tidak melibatkan dirinya sebagai Ketua Umum Pengurus Besar.

Sebuah pleno yang valid, lanjut Gus Yahya, seharusnya diundang oleh Syuriyah dan Tanfidziyah.

Gus Yahya menuding pleno Syuriyah tersebut sebagai manuver politik di tengah upayanya melakukan transformasi organisasi.

Ia mengklaim ada pihak-pihak yang tidak menyukai perihal transformasi tersebut. Secara tegas, Gus Yahya menyatakan dirinya tetap menjabat sebagai Ketua Umum PBNU, baik secara de facto maupun de jure, dan mekanisme pergantian pemimpin harus sesuai AD/ART melalui muktamar.

Menanggapi situasi ini, Menteri Agama Nasaruddin Umar, yang juga menjabat sebagai Wakil Rais Syuriyah PBNU, berharap keputusan pleno dapat menjadi solusi terbaik untuk mengatasi perpecahan.

Ia menekankan bahwa NU selalu memiliki caranya sendiri dalam menyelesaikan persoalan, sehingga Kementerian Agama tidak ikut campur dalam urusan internal PBNU.

Imam Besar Masjid Istiqlal itu juga berharap adanya keputusan ini dapat meringankan beban kebangsaan dan keumatan, serta mendorong keutuhan ormas-ormas Islam, termasuk Nahdlatul Ulama sebagai organisasi terbesar di dunia.