Jakarta – Stereotip seringkali membatasi peran perempuan paruh baya. Muncul anggapan bahwa perempuan seusia itu harus bijak dalam diam.
Namun, aktivis sosial Roostien Ilyas dan teman-temannya menepis anggapan tersebut. Mereka menegaskan bahwa usia hanyalah angka.
Roostien, bersama Effy, Liliek, dan Ida, menyatakan kecerdasan tak mengenal kedaluwarsa.
Roostien menyoroti pandangan bahwa perempuan matang diminta ‘menurunkan volume’ kecerdasannya. Atau dianggap terlalu kritis saat berpendapat.
“Padahal otak tidak pernah diberi tanggal kedaluwarsa. Ia justru rusak kalau jarang dipakai,” ujarnya.
“Maka, belajar di usia matang bukan ambisi, melainkan kebutuhan biologis yang sering disalahpahami,” lanjutnya.
Effy, Liliek, dan Ida membuktikan bahwa aktif dalam profesi dan diskusi menjaga vitalitas mental.
Mereka mengkritik standar sosial yang mengukur kecantikan dari penampilan fisik dan kecerdasan dari seberapa nyaman ia tidak mengganggu.
“Perempuan cantik dipuji, perempuan cerdas sering diminta menurunkan volume. Padahal, kecantikan tanpa kecerdasan hanyalah dekorasi,” tegasnya.
Mereka percaya kecantikan sejati di usia matang lahir dari proses internal yang panjang. Bukan soal fisik, melainkan kejelasan berpikir dan keberanian bersikap.
“Yang menentukan nilai adalah isi kepala, keluasan hati, dan keberanian untuk terus bertumbuh,” tutup Roostien.
Bagi mereka, perempuan yang terus belajar dan berani bersuara di usia matang merawat martabatnya sebagai manusia utuh dan berdaya.
Pernyataan ini mengingatkan bahwa nilai seseorang tidak didikte usia, melainkan kontribusi pemikiran dan keberanian sikap.







