Jakarta – Aksi unjuk rasa di depan Gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) pada Kamis, 28 Agustus 2025, yang berujung pada tewasnya seorang pengemudi ojek online (ojol), telah memicu gelombang simpati dari negara tetangga. Melalui gerakan di media sosial, mereka menunjukkan kepedulian kepada para pengemudi ojol dan demonstran di Indonesia.
Gerakan solidaritas ini berawal dari sebuah cuitan akun @sighyam di platform X (Twitter) pada 30 Agustus 2025, yang dengan cepat menarik perhatian publik. Unggahan tersebut menjelaskan bahwa individu di luar negeri dapat memberikan dukungan kepada para pengemudi Grab di Indonesia dengan memanfaatkan fitur aplikasi yang memungkinkan pemesanan dari negara lain melalui perubahan pengaturan lokasi.
“Guys I just found out that you can support indonesian grab riders who are still out on the streets because grab allows you to make deliveries in other SE Asian countries?? OKAYYYY,” tulisnya yang kemudian menjadi viral.
Salah satu yang tergerak mengikuti gerakan ini adalah Firra, seorang pekerja berusia 29 tahun asal Singapura. “Soalnya saya punya banyak teman di Indonesia, jadi ikut merasa terpanggil untuk membantu,” ujar Firra saat dihubungi melalui Zoom pada Rabu, 3 September 2025.
Firra mengakui awalnya sempat kebingungan dalam menggunakan aplikasi tersebut. Namun, linimasa TikTok-nya segera dipenuhi dengan berbagai konten tutorial yang menjelaskan cara pemesanan, termasuk pilihan jenis barang yang dapat dipesan, seperti makanan atau sembako. Ia memutuskan untuk memesan makanan di warung, yang dianggapnya paling dibutuhkan saat itu.
Dalam proses pemesanan, Firra menggunakan fitur obrolan di aplikasi untuk menginformasikan bahwa makanan yang dipesannya ditujukan untuk dibagi-bagikan kepada pengemudi lainnya. Lantaran jumlah pesanan yang cukup besar, pengemudi ojol sempat tidak percaya dan bahkan mengira itu adalah pesanan fiktif.
Meskipun enggan menyebutkan berapa banyak uang yang telah ia keluarkan, Firra menyatakan tidak terlalu mempermasalahkan nominal tersebut. Baginya, harga yang dibayarkan di Indonesia masih jauh lebih terjangkau dibandingkan di Singapura. “Saya tidak terlalu memikirkan nominalnya, lebih ke kondisi teman-teman di sana,” tuturnya.
Memiliki banyak teman di Indonesia, terutama di media sosial, membuat Firra terus mengikuti perkembangan situasi demo di depan Gedung DPR. Linimasa media sosialnya dan grup WhatsApp pertemanannya yang beranggotakan 20-30 orang dari Indonesia, Singapura, dan Malaysia, turut membahas kronologi kerusuhan saat unjuk rasa tersebut.
Firra menjelaskan, informasi mengenai situasi di Indonesia didapatkannya dari teman-temannya yang mayoritas Warga Negara Indonesia. Ia juga baru menyadari bahwa demonstrasi tidak hanya terjadi di Jakarta, melainkan juga di kota-kota lain seperti Bandung.
Menurut Firra, aksi unjuk rasa adalah sarana bagi rakyat untuk menyuarakan aspirasinya. Ia berharap agar suara rakyat Indonesia dapat tersampaikan dengan baik, dan investigasi untuk mengungkap penyebab kerusuhan dapat dilakukan secara menyeluruh. “Semoga Indonesia cepat pulih,” pungkasnya.







