Berita

Orang Tua Kurang Perhatikan Keamanan Siber Cenderung Lebih Sering Unggah Foto Anak

13
×

Orang Tua Kurang Perhatikan Keamanan Siber Cenderung Lebih Sering Unggah Foto Anak

Sebarkan artikel ini
orang-tua-kurang-peka-keamanan-siber-lebih-sering-share-foto-anak
orang tua kurang peka keamanan siber lebih sering share foto anak

Jakarta – Riset terbaru dari Kaspersky dan Singapore Institute of Technology (SIT) mengungkapkan bahwa orang tua yang kurang memperhatikan keamanan siber cenderung lebih sering membagikan kehidupan anak-anak mereka di media sosial atau yang dikenal dengan istilah sharenting.

Sharenting sendiri merupakan kebiasaan orang tua dalam membagikan konten berupa foto, video, maupun informasi detail mengenai anak-anak mereka ke ranah digital.

Studi bertajuk “Small Shares, Big Risks: How Parents Assess Threats and Cope with Sharing of Children’s Data” tersebut menemukan fakta bahwa frekuensi unggahan konten anak berbanding terbalik dengan niatan orang tua dalam menerapkan langkah keamanan daring.

“Analisis kami menggabungkan regresi, korelasi, dan perbandingan rata-rata untuk meneliti hubungan antara perilaku ‘berbagi’ orang tua dan sikap mereka terhadap keamanan digital. Melalui metode-metode ini, kami mengamati pola konsisten yang menunjukkan bahwa seiring meningkatnya frekuensi ‘berbagi informasi’ dari para orang tua, maka motivasi untuk mengadopsi langkah-langkah perlindungan menurun,” ujar Associate Professor Jiow Hee Jhee, Deputy Director, Teaching and Learning Academy di SIT, Rabu (3/6).

Ia menambahkan, hal ini menunjukkan adanya kesenjangan perilaku.

Menurutnya, paparan online anak yang lebih besar ternyata tidak diimbangi dengan upaya yang sepadan untuk melindungi data dan privasi mereka.

Studi ini melibatkan 152 responden dari berbagai negara, yakni Mesir, Hong Kong, India, Indonesia, Malaysia, Myanmar, Filipina, Singapura, dan Vietnam. Riset menunjukkan bahwa kendati orang tua di wilayah Asia Pasifik dan Mesir menyadari pentingnya privasi anak, mereka sering kali merasa upaya perlindungan tersebut cukup merepotkan.

Data menunjukkan 87 persen responden setuju bahwa membatasi visibilitas media sosial hanya kepada orang terdekat dapat mengurangi risiko. Namun, 49 persen di antaranya berpendapat bahwa proses pengaturan tersebut memakan waktu.

Begitu pula dengan penghapusan izin berbagi yang dianggap penting oleh 80 persen orang tua, namun 40 persen lainnya merasa hal itu membutuhkan usaha ekstra. Selain itu, 83 persen responden meyakini mematikan metadata dan penandaan geografis dapat melindungi privasi, tetapi 36 persen merasa langkah itu terlalu merepotkan.

“Dalam penelitian, beberapa orang tua yang kami survei merasa mengubah pengaturan privasi media sosial mereka atau menghapus penandaan lokasi pada aplikasi cukup merepotkan. Orang tua mengakui bahwa keamanan digital itu penting, tetapi kesulitan dalam menerapkannya menciptakan gesekan terus-menerus,” kata Trishia Octaviano, Manajer Senior Pendidikan Keamanan Siber untuk Asia Pasifik di Kaspersky.

Ia menyebutkan, di sisi lain, saat diminta menilai kemampuan diri, empat dari lima orang tua merasa mampu melindungi informasi anak agar tidak tersebar luas dan mampu mengatur privasi akun mereka. Kendati demikian, hampir 72 persen orang tua tetap merasa rentan terhadap risiko peretasan meski telah melakukan pengaturan privasi.

Menanggapi fenomena tersebut, terdapat sejumlah tips untuk mengelola privasi digital keluarga:

  1. Hapus akun lama yang sudah tidak digunakan.
  2. Atur akun menjadi privat jika tidak ingin profil bersifat publik.
  3. Luangkan waktu untuk menavigasi dan memeriksa pengaturan privasi akun media sosial secara berkala, termasuk meninjau jaringan kontak dan aktivitas masa lalu.
  4. Pertimbangkan potensi risiko sebelum mengungkapkan informasi apa pun secara daring.
  5. Berhati-hati dalam membagikan geolokasi dan hapus metadata dari setiap file foto yang diunggah.
  6. Hapus unggahan yang mengungkap lokasi rutin anak, seperti sekolah atau tempat kursus.
  7. Pantau aktivitas daring anak secara aktif.