Arianti tampil sebagai pelari tercepat dengan waktu 12,52 detik, mengungguli Simran dari India dan Yaqin Shen, pelari tuan rumah, dengan selisih 0,16 detik dan 0,26 detik masing-masing.
“Pada pagi ini, Para atletik berhasil menambah medali. Medali emas yang diraih oleh Arianti merupakan sebuah kejutan. Awalnya dia hanya ditargetkan meraih medali perunggu, tetapi dia malah meraih medali emas,” kata pelatih Para atletik Indonesia, Slamet Widodo, seperti yang dikutip dari keterangan resmi Komite Paralimpiade (NPC) Indonesia.
Medali emas Arianti adalah emas kedua dari cabang olahraga Para Atletik, menyusul emas pertama yang diraih oleh Saptoyogo Purnomo dalam lari 400 m T37 putra sehari sebelumnya.
Selain itu, tim Para atletik hari ini juga meraih medali perak yang disumbangkan oleh sprinter Eko Saputra dalam nomor lari 100 m T12, dengan waktu 11,22 detik. Medali emas pada nomor ini diraih oleh atlet Iran, Mehrdad Moradi, dan medali perunggu oleh pelari Jepang, Daiki Ishyama.
“Medali perak yang diraih oleh Eko sesuai dengan target awalnya,” ujar Slamet.
Eko Saputra mengungkapkan kejutannya dalam mencapai medali perak, meskipun awalnya ditargetkan hanya meraih medali perunggu.
Dengan tambahan medali ini, perolehan medali Indonesia per Selasa (24/10) mencapai tiga emas, empat perak, dan lima perunggu, menempatkan Indonesia di posisi ketujuh pada klasemen sementara.







