Cilacap – Sembilan orang tewas dan 14 lainnya masih dalam pencarian setelah bencana tanah longsor menerjang Desa Cibeunying, Kecamatan Majenang, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah. Bencana pada Kamis malam, 13 November 2025, ini juga mengakibatkan belasan rumah roboh dan puluhan lainnya terancam.
Hingga Sabtu, 15 November, proses pencarian korban terus berlanjut. Sebanyak 520 personel gabungan dari BNPB, Basarnas, TNI, Polri, hingga relawan dikerahkan. Tim evakuasi menghadapi kesulitan karena cuaca ekstrem dan perkiraan korban tertimbun material longsor hingga kedalaman delapan meter.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Tengah, Bergas Catursari Penanggungan, menyatakan fokus utama saat ini adalah menemukan korban yang hilang. “Kami upayakan terus sampai korban ditemukan,” ucapnya.
Bencana longsor dan banjir ini dipicu oleh hujan lebat yang mengguyur wilayah tersebut sejak akhir pekan lalu. Derasnya curah hujan menyebabkan debit air Sungai Citanduy meningkat signifikan, memicu banjir rob yang masuk ke sungai di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Barat itu.
Kepala Desa Rawaapu, Bambang Wiantoro, mengklarifikasi beredarnya foto banjir Sungai Citanduy di media sosial. Ia memastikan foto tersebut bukan berasal dari wilayah Rawaapu, melainkan dari Majingklak, Kecamatan Kalipucang, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat.
Luas area terdampak longsor di Desa Cibeunying mencapai 6,5 hektare. Material longsor menghancurkan delapan rumah, merusak satu rumah sedang, dan mengancam 16 rumah warga. Selain itu, terjangan material juga menimbun jalan perkampungan.
Untuk mempercepat pencarian, BPBD telah mengerahkan 10 unit ekskavator. Alat berat ini sangat membantu dalam menyingkirkan material longsor yang diperkirakan mencapai kedalaman hingga 10 meter di beberapa titik.







