Jakarta – Tools for Humanity (TFH), pengelola platform World, menanggapi pernyataan terbaru Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) terkait status platformnya di Indonesia pada Selasa (17/6).
Dalam keterangan resminya, TFH menyatakan menghargai penjelasan Komdigi terkait sanksi sementara yang masih berlaku.
TFH menegaskan komitmennya terhadap regulasi dan perlindungan data.
“Kami selalu memprioritaskan kepatuhan terhadap regulasi, termasuk mengenai perlindungan data, serta tetap berkomitmen untuk menanggapi setiap masukan yang disampaikan,” tulis Tools for Humanity dalam keterangan yang dikutip dari CNNIndonesia.com, Selasa (17/6).
TFH juga menyatakan tujuan mereka untuk terus menjalin kerja sama dengan otoritas terkait agar dapat kembali menyediakan teknologi penting ini kepada masyarakat di Indonesia sesegera mungkin.
Sebelumnya, Komdigi memutuskan untuk tetap menjatuhkan sanksi penghentian sementara terhadap platform World.
Keputusan ini diambil sebagai langkah preventif pemerintah, setelah evaluasi teknis menunjukkan adanya pelanggaran terhadap ketentuan perlindungan data pribadi dan kewajiban administratif sebagai Penyelenggara Sistem Elektronik (PSE) yang sah.
Akibatnya, TFH dan mitranya di Indonesia, PT Sandina Abadi Nusantara (PT SAN), diwajibkan untuk menghentikan aktivitas pengumpulan hingga penghapusan data pemindaian iris, serta pemrosesan data iris (termasuk data yang telah di-hash) yang sebelumnya dilakukan terhadap masyarakat Indonesia.
TFH juga memberikan penjelasan mengenai prinsip perlindungan privasi yang diusung teknologi World.
Mereka mengklaim bahwa World tidak menyimpan atau menjual data pribadi apa pun, termasuk gambar iris. Mereka juga menjamin anonimitas identitas pengguna World ID yang telah terverifikasi.
TFH menjelaskan bahwa setelah seseorang berhasil memverifikasi diri sebagai manusia nyata dan mendapatkan World ID melalui perangkat Orb, gambar iris dienkripsi secara end-to-end dan dikirim ke perangkat pengguna. Gambar tersebut kemudian segera dihapus dari perangkat Orb secara permanen, tidak disimpan oleh World atau Tools for Humanity.
Proses ini, yang dikenal sebagai Personal Custody, memastikan individu memegang kendali penuh atas data pribadi mereka.
TFH mengklaim bahwa baik World maupun Tools for Humanity tidak dapat mengakses ponsel seseorang atau data yang disimpan di dalamnya.
“Ini artinya, hanya pengguna yang dapat menghapus gambar iris mereka melalui World App. Selain itu, World bersifat open source, sehingga jaminan privasinya dapat diverifikasi secara independen dan oleh siapa pun,” imbuhnya.







