Surabaya – Jawa Timur (Jatim) diprediksi akan mengalami kemarau panjang tahun ini. Lebih dari 410 ribu kepala keluarga (KK) diperkirakan akan terdampak kekeringan.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jatim telah memetakan wilayah yang berpotensi terdampak.
BPBD memperkirakan 222 kecamatan dan 815 desa di 26 kecamatan di Jatim terancam kekeringan. Total, 410.514 KK diperkirakan akan merasakan dampaknya.
Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Jatim, Gatot Soebroto, menyebut Pulau Madura sebagai wilayah paling rawan.
Kabupaten Sampang diprediksi menjadi wilayah dengan dampak terbesar, mencapai 109.446 KK di 14 kecamatan. Disusul Pamekasan dengan 63.171 KK.
“Bojonegoro tercatat memiliki 36.585 KK terdampak di 11 kecamatan dan 89 desa, sedangkan Bangkalan mencapai 36.950 KK di 10 kecamatan dan 59 desa,” ujar Gatot, Jumat (3/4).
Distribusi air bersih dan pembagian tandon air menjadi langkah jangka pendek yang diambil. Prioritas diberikan pada titik-titik kritis.
Kabupaten Tuban dilaporkan sudah mulai mengalami kekeringan lebih awal.
“Saat ini masih dilakukan oleh BPBD kabupaten apabila membutuhkan droping seperti yang terjadi di Tuban,” kata Gatot.
Selain krisis air, BPBD Jatim juga menyiagakan personel untuk antisipasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
BPBD Jatim memastikan akan menyokong penuh kebutuhan logistik di tingkat daerah.
Pemprov Jatim siap memberikan bantuan tambahan melalui dana tak terduga jika anggaran darurat di level kabupaten/kota menipis.
“Kami support bila kabupaten tidak memiliki anggaran ataupun anggarannya telah menipis. Menyesuaikan dengan kebutuhan mereka mengajukan dan kami akan ajukan ke gubernur sesuai kebutuhan tersebut,” pungkas Gatot.












