News

Keluarga Kehilangan Kontak dengan Aktivis Papua Yasinta Moiwend

12
×

Keluarga Kehilangan Kontak dengan Aktivis Papua Yasinta Moiwend

Sebarkan artikel ini
dd8ee4a983c202958eb292dc6eb67059.jpg
dd8ee4a983c202958eb292dc6eb67059.jpg

Merauke – Pihak keluarga aktivis Papua, Yasinta Moiwend, melaporkan hilangnya kontak dengan perempuan tersebut sejak Ahad, 24 Mei 2026. Diduga, Yasinta dibawa keluar dari kediamannya di Kampung Wogekel, Distrik Ilwayab, Merauke, tanpa sepengetahuan keluarga setelah namanya mencuat terkait polemik film Pesta Babi.

Salah satu anak Yasinta mengungkapkan bahwa ibunya sempat bermalam di pos TNI di Kampung Wogekel pada Ahad malam. Keesokan harinya, Senin, 25 Mei 2026, Yasinta diduga dibawa oleh aparat militer yang bertugas mengamankan Proyek Strategis Nasional (PSN) di Kampung Wanam bersama sejumlah pejabat distrik.

Keluarga sempat menerima informasi simpang siur mengenai keberadaan Yasinta, mulai dari perjalanan menuju Merauke hingga rencana keberangkatan menggunakan pesawat jet menuju Timika. Kepastian keberadaan Yasinta baru diketahui keluarga melalui sambungan telepon seorang aparat militer yang mengabarkan bahwa Yasinta kini berada di Jakarta.

Dalam komunikasi tersebut, Yasinta disebut meminta dokumen kependudukan milik keluarga, yakni KTP dan kartu keluarga. Ia juga menyampaikan rencana pertemuan dengan Presiden Prabowo Subianto.

Di sisi lain, Yasinta dikabarkan telah melaporkan Ketua LBH Merauke berinisial JTW ke Polda Metro Jaya terkait dugaan pelanggaran Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi dalam film Pesta Babi. Laporan tersebut terdaftar dengan nomor LP/B/3843/V/2026/SPKT/Polda Metro Jaya pada 29 Mei 2026.

Langkah hukum yang diambil Yasinta memicu kebingungan keluarga. Pasalnya, Yasinta selama ini dikenal sebagai sosok pejuang hak masyarakat adat yang vokal menolak proyek strategis nasional dan ekspansi industri pangan di Papua Selatan. Pihak keluarga menduga ada upaya sistematis dari pihak tertentu yang sengaja membenturkan perjuangan masyarakat adat dengan kepentingan proyek strategis.

Keluarga menyatakan kekhawatiran mendalam terhadap kondisi dan keselamatan Yasinta di Jakarta. Mereka kini mendesak Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK), Komnas HAM, dan Komnas Perempuan untuk turun tangan mengawal kasus ini serta meminta agar Yasinta segera dipulangkan kepada keluarga.

Hingga saat ini, keluarga mengaku belum mengetahui secara pasti apakah Yasinta berada dalam kondisi aman atau justru di bawah tekanan dan intimidasi. Yasinta dikenal luas sebagai aktivis yang gigih menyuarakan keresahan warga terkait ancaman pengambilalihan tanah ulayat dan pembukaan hutan di wilayah Papua Selatan.