Jakarta – Indonesia dinilai belum berdaulat atas data penginderaan jarak jauh dari satelit. Sebagian besar data masih dikuasai pihak asing.
Plt Kepala Badan Informasi Geospasial (BIG) Mohamad Arief Syafii mengungkapkan hal ini. Ia menilai teknologi satelit global sudah sangat canggih.
Arief menyampaikan hal ini dalam rapat bersama DPR. Teknologi satelit, seperti milik Amerika Serikat, terus berkembang.
“Jadi betul sekali Pak pimpinan yang disampaikan tadi, bahwa sekarang ini teknologi penginderaan jauh, satelit sudah sangat maju resolusi tertinggi yang di-publish untuk publik bukan yang versi militer Pak, itu kita nggak bisa akses,” kata Arief.
Arief menjelaskan tantangan Indonesia bukan hanya teknologi. Faktor geografis seperti tutupan awan juga menghambat penginderaan optis.
Meski ada alternatif teknologi radar dan pesawat beresolusi tinggi, Indonesia butuh kemandirian. Caranya dengan membangun satelit sendiri.
Kedaulatan data geospasial penting untuk pemetaan, pertahanan, dan kebijakan. Terlebih dalam konteks global, satelit dimanfaatkan dalam konflik militer.
“Tadi Pak Sturman bilang ada perubahan di lapangan kita butuh teknologi yang cepat, ini hanya satelit yang bisa dilakukan ini, kalau pakai pesawat mahal dan hanya scoop yang kecil tapi dengan satelit kita bisa lakukan dengan cepat,” tandasnya.







