Israel – Pemerintah Israel mengonfirmasi bahwa kelompok pejuang Palestina, Hamas, telah membebaskan seluruh 20 sandera dan tawanan perang yang masih hidup. Pembebasan ini merupakan tahap pertama dari perjanjian gencatan senjata antara Israel dan Gaza.
Kelompok pertama yang terdiri dari tujuh sandera dibebaskan pada Senin, 13 Oktober 2025. Mereka diserahkan kepada Komite Internasional Palang Merah (ICRC) sebelum kemudian diteruskan kepada Pasukan Pertahanan Israel (IDF) dan badan keamanan dalam negeri Israel, Shin Bet, di Gaza. Para sandera yang dibebaskan dalam gelombang pertama ini antara lain Eitan Mor, Gali dan Ziv Berman, Matan Engerst, Omri Miran, Guy Gilboa Dalal, serta Alon Ohel.
Dua jam kemudian, kelompok kedua yang terdiri dari 13 sandera juga dibebaskan oleh Hamas. IDF mengonfirmasi bahwa mereka telah dipindahkan ke ICRC di Gaza. Mereka yang dibebaskan meliputi Elkana Bohbot, Rom Braslavski, Nimrod Cohen, Ariel Cunio, David Cunio, Evyatar David, Maxim Herkin, Eitan Horn, Segev Kalfon, Bar Kupershtein, Yosef Haim Ohana, Avinatan Or, dan Matan Zangauke.
Secara keseluruhan, 20 sandera yang dibebaskan adalah mereka yang masih hidup dari total 48 sandera dan tentara Israel yang ditawan. Menurut IDF, para sandera dikawal oleh unit elit IDF dan Shin Bet kembali ke Israel. Mereka akan menjalani evaluasi medis dan bertemu kembali dengan keluarga mereka.
Kegembiraan meledak di kalangan keluarga dan teman-teman para sandera saat televisi Israel mengumumkan bahwa sandera telah berada di tangan Palang Merah. Puluhan ribu warga Israel menyaksikan pemindahan tersebut melalui pemutaran film publik di seluruh negeri, dengan acara besar diadakan di Tel Aviv. Ibu dari sandera Matan Zangauker yang dibebaskan, terlihat berbicara dengan putranya dalam rekaman video. “Matan, kamu pulang. Perang sudah berakhir. Aku mencintaimu, aku menunggumu,” ujarnya. “Syukurlah, perang sudah berakhir.”
Pembebasan sandera ini merupakan bagian dari tahap pertama perjanjian gencatan senjata dengan Israel, yang juga mencakup pembebasan ratusan warga Palestina dari penjara Israel. Sebanyak 1.966 tahanan Palestina yang dijadwalkan dibebaskan telah menaiki bus, menurut para pejabat yang terlibat dalam operasi tersebut. Dua ratus lima puluh di antaranya diperkirakan akan dibebaskan ke Tepi Barat, Yerusalem, dan luar negeri.
Kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Hamas ini, menjadi langkah terbesar menuju berakhirnya perang yang telah berlangsung selama dua tahun. Kesepakatan ini bertujuan untuk membuka jalan bagi perdamaian abadi di bawah rencana 20 poin yang disusun oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump, yang dijadwalkan mendarat di Israel segera setelah pembebasan.
Konflik tersebut dipicu oleh serangan Hamas pada 7 Oktober 2023. Serangan itu menewaskan sekitar 1.200 orang di Israel dan menyandera 251 orang.
Genosida Israel sejak saat itu telah menghancurkan Gaza, mengakibatkan tewasnya lebih dari 67.800 warga Palestina, yang sebagian besar adalah perempuan dan anak-anak.







