Jakarta – Pemprov DKI Jakarta akan mengintensifkan vaksinasi menyusul peningkatan kasus campak. Langkah ini diambil untuk menekan penyebaran penyakit menular tersebut.

Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menyatakan vaksinasi akan digalakkan. Hal ini disampaikan di Balai Kota DKI Jakarta, Jakarta Pusat, Rabu (4/3).

Pramono menekankan pentingnya peran posyandu dalam mengedukasi masyarakat.

Pengurus posyandu yang baru dilantik diberi mandat khusus untuk sosialisasi vaksinasi.

“Salah satu tugas utamanya adalah mensosialisasikan vaksin,” kata Pramono.

Upaya ini sejalan dengan agenda besar kesehatan Pemprov DKI.

Kampanye vaksinasi akan berjalan bersamaan dengan penanganan masalah gizi dan penyakit menular lainnya.

“Di Jakarta ini saya menyoroti ada dua hal yang menjadi konsentrasi Pemerintah DKI Jakarta yang berkaitan dengan kesehatan: yang pertama adalah TBC, yang kedua adalah stunting,” ujarnya.

Wakil Ketua Komisi IX DPR, Yahya Zaini, menanggapi kenaikan kasus campak. Ia mendesak Kemenkes meningkatkan kewaspadaan.

Yahya menyebut Indonesia sebagai negara dengan kasus campak terbesar kedua setelah Yaman. Data WHO mencatat 10.744 kasus di Indonesia.

“Meningkatnya kasus campak di Indonesia karena menurunnya cakupan imunisasi rutin lengkap,” kata Yahya.

Ia mendesak Kemenkes waspada dan menetapkan KLB jika pertumbuhan tak terkendali.

Kemenkes mencatat 63.769 kasus suspek campak sepanjang 2025. Sebanyak 11.094 kasus terkonfirmasi laboratorium dan 69 kematian (CFR 0,1 persen).

Pada 2026 hingga akhir Februari, tercatat 8.224 kasus suspek campak. Sebanyak 572 kasus terkonfirmasi, dan 4 kematian (CFR 0,05 persen).

Periode itu terjadi 21 KLB suspek campak dan 13 KLB campak terkonfirmasi di 17 kabupaten/kota pada 11 provinsi.

Plt. Dirjen Penanggulangan Penyakit, dr. Andi Saguni, menyebut kasus suspek campak meningkat signifikan pada 2025, yakni 147 persen dibanding 2024.

Penguatan sistem kewaspadaan dini menjadi prioritas.

“Kami terus memperkuat surveilans campak secara nasional,” jelasnya.

Campak sangat menular sehingga perlu kewaspadaan dan respons cepat.

Peningkatan kasus campak juga dilaporkan di berbagai kawasan dunia. Termasuk Asia Tenggara dan Pasifik Barat, yang meningkatkan risiko penularan lintas negara.

Indonesia juga menerima notifikasi IHR terkait kasus campak pada WNA Australia yang sempat tinggal di Indonesia.

Seluruh kasus tersebut telah sembuh, dan koordinasi lintas negara terus dilakukan.

Kemenkes menegaskan akan terus meningkatkan kewaspadaan nasional. Penguatan surveilans, respons cepat KLB, serta kolaborasi lintas sektor dengan pemerintah daerah akan dilakukan. Tujuannya mencegah meluasnya penularan campak.

83175 mtwzykyk00gmmtal3n5kvxmf79fnutdz

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *