Makassar – Ancaman hipertensi menghantui anak-anak di Sulawesi Barat (Sulbar). Dinas Kesehatan setempat menemukan 7,2% anak usia di bawah 18 tahun berisiko tinggi mengalami tekanan darah tinggi.

Temuan ini didasarkan pada analisis terhadap 6.433 anak yang menjalani pemeriksaan kesehatan.

Selain itu, 4,9% anak tergolong pre-hipertensi, sementara 2,3% lainnya sudah terdiagnosis hipertensi.

Plt Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Barat, dr. Nursyamsi Rahim, menyoroti gaya hidup sebagai faktor utama pemicu masalah ini.

“Pola makan yang didominasi garam, minim buah dan sayur, serta kurangnya aktivitas fisik menjadi penyebab utama,” ungkapnya dalam siaran pers, Kamis (23/10).

Data Dinkes Sulbar menunjukkan bahwa 69,1% anak kurang mengonsumsi buah dan sayur, 21,5% kurang bergerak aktif, dan 6,8% mengonsumsi garam secara berlebihan.

“Intervensi dini sangat penting untuk memastikan generasi kita tumbuh sehat dan produktif,” tegas Nursyamsi.

Dinas Kesehatan Sulbar kini mengintegrasikan pemeriksaan tekanan darah anak ke dalam program Cek Kesehatan Gratis (CKG) di sekolah-sekolah.

Langkah ini bertujuan untuk mendeteksi dini penyakit tidak menular (PTM) agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat dan efektif.

Sebagai tindak lanjut, Dinkes Sulbar merekomendasikan tiga strategi utama.

Pertama, kampanye gizi seimbang dan peningkatan konsumsi buah serta sayur.

Kedua, edukasi tentang pengurangan konsumsi garam berlebih pada makanan di rumah dan kantin sekolah.

Ketiga, promosi aktivitas fisik dan olahraga di lingkungan sekolah dan komunitas.

“Melalui edukasi dan kolaborasi lintas sektor, kami ingin memastikan anak-anak Sulawesi Barat terbiasa hidup sehat sejak usia dini,” pungkas Nursyamsi.

83175 mtwzykyk00gmmtal3n5kvxmf79fnutdz

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *