Vatikan – Carlo Acutis, yang dijuluki ‘santo siber’ dan meninggal karena leukemia pada usia 15 tahun di tahun 2006, kini resmi dikanonisasi sebagai orang kudus pertama dari generasi milenial oleh Gereja Katolik. Upacara kanonisasi berlangsung di Vatikan pada Minggu (09/09), di mana Paus Leo XIV menyatakan kegembiraannya melihat banyaknya umat muda Katolik yang hadir.

Remaja asal Italia yang wafat di usia muda itu dijuluki “influencer Tuhan” karena dedikasinya menyebarkan nilai-nilai keimanan melalui internet dan media sosial sepanjang hidupnya yang singkat. Paus Leo XIV memimpin langsung upacara kanonisasi di Lapangan Santo Petrus, Vatikan, yang dihadiri puluhan ribu orang, termasuk keluarga Acutis.

Acutis, yang lahir di London pada tahun 1991 dari orang tua berkebangsaan Italia, menghabiskan masa kecilnya di Milan. Meskipun keluarganya tidak terlalu religius, ia tumbuh menjadi seorang Katolik yang sangat taat. Ia dikenal rutin mengikuti misa harian, memiliki kebaikan hati yang luar biasa, sering membela teman yang dirundung, serta membagikan makanan dan kantong tidur kepada para gelandangan.

Sisi lain dalam hidup Acutis yang cukup unik adalah ketertarikannya pada teknologi. Sebagai seorang ‘hardcore gamer’, ia belajar dasar-dasar coding secara otodidak. Keterampilan ini kemudian digunakannya untuk mendokumentasikan berbagai mukjizat dan aspek lain dari iman Katolik secara daring.

Jasad “santo siber” ini, yang semasa hidupnya kerap mengenakan jeans modern dan sepatu Nike, kini disemayamkan dalam peti kaca di Kota Assisi, Italia. Tahun lalu, makamnya dikunjungi oleh lebih dari satu juta peziarah.

Paus Leo XIV dalam homilinya juga menyinggung Pier Giorgio Frassati, seorang pemuda Italia pecinta gunung yang meninggal karena polio pada tahun 1925 dan juga diangkat menjadi santo. “Santo Pier Giorgio Frassati dan Carlo Acutis adalah ajakan bagi kita semua, terutama anak muda, untuk tidak ‘menyia-nyiakan’ hidup, tetapi mengarahkan hidup ke Tuhan dan menjadikannya mahakarya,” papar Paus.

Beliau melanjutkan, “Bahkan ketika mereka diserang penyakit dan hidupnya di dunia berakhir di usia muda, itu pun tidak menghentikan mereka, tidak juga menghentikan mereka mengasihi, atau berhenti menyerahkan diri kepada Tuhan.”

Carlo Acutis memiliki pengaruh kuat bagi anak muda Katolik, terlihat dari banyaknya generasi muda yang hadir di acara kanonisasinya. Filippo Bellaviti, 17 tahun, mengungkapkan kepada kantor berita AFP, “Ia bisa menyatukan kehidupan sehari-hari – sekolah, bermain bola, dan hobinya sama IT dan komputer – dengan iman yang tidak goyah.”

Eleanor Hauser, 15 tahun, yang sedang melakukan studi tur ke Italia dari North Carolina, Amerika Serikat, mengetahui tentang Acutis dari neneknya. Ia menambahkan, “Ini menunjukkan bahwa kamu bisa melakukan hal besar walaupun masih muda, kamu bisa memberi dampak ke dunia tak peduli umurmu berapa.”

Proses untuk menjadi seorang santo sangat panjang dan ketat, termasuk penyelidikan menyeluruh oleh tim ahli Vatikan yang memastikan kebenaran dua mukjizat wajib. Mukjizat yang dikaitkan dengan Acutis antara lain penyembuhan seorang anak di Brasil yang menderita kelainan pankreas langka, serta pemulihan seorang siswi dari Kosta Rika yang mengalami luka parah akibat kecelakaan lalu lintas.

Antonia Salzano, ibunda Acutis, menyatakan bahwa anaknya adalah bukti bahwa “kita semua terpanggil untuk menjadi orang suci. Semua orang itu spesial.”

83175 mtwzykyk00gmmtal3n5kvxmf79fnutdz

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *