Jakarta – Nilai tukar rupiah menghadapi tekanan hebat dan diprediksi berpotensi menembus level Rp 18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) pada Mei 2026. Pelemahan ini dipicu oleh eskalasi tensi geopolitik di Timur Tengah serta kebijakan suku bunga bank sentral AS, The Fed.

Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, menyebutkan bahwa jika ambang batas Rp 18.000 terlewati, mata uang Garuda berisiko terperosok lebih dalam ke level Rp 22.000 per dolar AS. Pada perdagangan Jumat, 15 Mei 2026, rupiah sendiri sempat menyentuh level Rp 17.600 per dolar AS.

Menurut Ibrahim, posisi rupiah saat ini sedang berada di titik krusial. Libur panjang perdagangan menyebabkan intervensi Bank Indonesia di pasar internasional menjadi terbatas, sehingga dampak tekanan eksternal terhadap rupiah jauh lebih signifikan.

Salah satu pemicu utama pelemahan ini adalah sikap The Fed yang diperkirakan tidak akan menurunkan suku bunga sepanjang tahun 2026 akibat lonjakan inflasi yang tajam di AS. Hal tersebut membuat dolar AS terus menguat di pasar global.

Dari sisi domestik, pelemahan rupiah memberikan beban berat bagi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Dampak paling nyata terlihat pada membengkaknya beban belanja subsidi minyak pemerintah.

Sebagai langkah mitigasi, Ibrahim memproyeksikan Bank Indonesia kemungkinan besar akan merespons situasi ini dengan menaikkan suku bunga acuan atau BI-Rate pada Juni mendatang. Kenaikan tersebut diperkirakan berada di rentang 25 basis poin hingga 50 basis poin demi menjaga stabilitas nilai tukar.

Meski demikian, kondisi pasar diharapkan dapat kembali beradaptasi saat perdagangan dibuka kembali pada Senin, 18 Mei 2026.

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk berspekulasi membeli atau menjual rupiah. Keputusan sepenuhnya berada di tangan pembaca.

83175 mtwzykyk00gmmtal3n5kvxmf79fnutdz

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *