Jakarta – Badan Gizi Nasional (BGN) membantah isu viral terkait Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Isu yang beredar menyebut mitra program meraup untung Rp1,8 miliar per tahun.
BGN juga menepis adanya mark-up dan kepentingan politik dalam program tersebut.
Wakil Kepala BGN Bidang Operasional, Sony Sonjaya menjelaskan, angka Rp1,8 miliar adalah estimasi pendapatan kotor maksimal. Bukan laba bersih.
Pendapatan itu dihitung dari Rp6 juta per hari selama 313 hari operasional.
Sony menegaskan, pendapatan tersebut masih harus dikurangi biaya investasi awal sebesar Rp2,5-6 miliar.
Juga biaya operasional, pemeliharaan, depresiasi aset, hingga berbagai risiko usaha.
Dengan skema tersebut, titik impas (BEP) baru tercapai dalam 22,5 tahun.
Mitra umumnya masih dalam tahap pengembalian modal pada dua tahun awal.
Mitra juga dihadapkan dengan risiko pemeliharaan aset, renovasi, dan relokasi jika melanggar standar.
Seluruh biaya bongkar, bangun ulang, dan pemindahan ditanggung mitra.
BGN juga menepis tudingan bahwa mitra bisa mengambil keuntungan dari pengurangan porsi makanan.
Sony menjelaskan, skema pembiayaan memisahkan insentif fasilitas dengan anggaran bahan baku.
Menggunakan prinsip at-cost dan sistem Virtual Account (VA).
Dana belanja tidak masuk ke rekening pribadi mitra dan diawasi ketat berdasarkan bukti riil.
Skema kemitraan ini disebut sebagai strategi efisiensi fiskal dan pemindahan risiko.
Negara tidak perlu mengeluarkan belanja modal besar untuk membangun ribuan dapur secara mandiri.
Seleksi mitra dilakukan terbuka dan teknokratis sesuai Juknis 401.1 Tahun 2026.
Tanpa jaminan bagi pihak tertentu.
Kontrak dapat dihentikan jika melanggar standar higienitas dan keamanan pangan.













