Berita

Tarif Resiprokal Indonesia–AS Jangan Ganggu Hilirisasi

123
×

Tarif Resiprokal Indonesia–AS Jangan Ganggu Hilirisasi

Sebarkan artikel ini
tarif-resiprokal-indonesia–as-jangan-ganggu-hilirisasi
tarif resiprokal indonesia–as jangan ganggu hilirisasi

Jakarta – Ekonom CORE Indonesia, Mohammad Faisal, mengingatkan agar perjanjian tarif dengan AS tidak bertentangan dengan hilirisasi nasional. Pengecualian tarif 19 persen oleh AS untuk komoditas ekspor Indonesia seperti CPO, kakao, kopi, dan teh dinilai bermanfaat jangka pendek.

Namun, hal ini berisiko melemahkan kebijakan industri dalam negeri jika hanya berlaku untuk komoditas mentah.

“Jangan sampai kita step back, kembali mengekspor bahan komoditas mentah,” kata Faisal, Sabtu (14/2/2026).

Faisal juga menyoroti keinginan AS untuk akses penuh terhadap mineral kritis Indonesia. Menurutnya, jika yang dimaksud adalah bahan mentah tambang, kesepakatan itu bertentangan dengan strategi hilirisasi Indonesia.

Strategi ini mendorong pengolahan di dalam negeri sebelum ekspor.

Pembebasan tarif dapat menjaga ekspor CPO ke AS, yang kini menjadi negara tujuan ekspor terbesar keempat dunia.

Namun, tekanan tetap besar bagi produk manufaktur dan industri olahan yang masih dikenakan tarif tinggi. Sektor ini diharapkan menjadi motor peningkatan ekspor bernilai tambah.

Faisal menekankan pentingnya diplomasi dagang yang lebih kuat. Hal ini agar kepentingan Indonesia tidak dikorbankan dalam negosiasi dengan mitra besar seperti AS.

“Negara tetangga seperti Vietnam, Taiwan dan Malaysia bisa mendapatkan deal yang lebih baik dibandingkan kita,” ujarnya.

Faisal menegaskan bahwa Indonesia harus berhati-hati meski ada ruang positif dari pengecualian tarif untuk komoditas tertentu.

Perjanjian dagang dengan AS tidak boleh mengorbankan arah kebijakan hilirisasi. Hilirisasi menjadi strategi utama untuk meningkatkan nilai tambah ekspor dan memperkuat daya saing nasional.

Presiden Prabowo Subianto dijadwalkan terbang ke AS pada Kamis (19/2). Ia akan menandatangani dokumen final kesepakatan tarif resiprokal Indonesia–AS bersama Presiden AS Donald Trump.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan perjanjian timbal balik ini masih dalam proses finalisasi. Sehingga, besaran tarif dagang yang disepakati kedua negara belum dapat dipastikan.

Indonesia berkomitmen membuka akses pasar bagi produk AS, mengatasi hambatan non-tarif, serta memperkuat kerja sama perdagangan digital, teknologi dan keamanan.

Sebaliknya, AS akan memberikan pengecualian tarif bagi sejumlah komoditas unggulan Indonesia yang tidak diproduksi di Negeri Paman Sam, seperti minyak kelapa sawit, kakao, kopi dan teh.