Bandung – Riset menjadi fondasi utama pembangunan daerah. Hal ini ditegaskan Gubernur Jawa Barat saat menandatangani nota kesepakatan dengan BRIN.
Penelitian dinilai kunci agar kebijakan pemerintah selaras dengan kebutuhan masyarakat dan berdampak jangka panjang.
“Penelitian adalah sebuah keharusan,” ujar Gubernur Jawa Barat. Ia menambahkan, lemahnya penelitian jadi penyebab pembangunan sering tak selaras harapan masyarakat.
Pemprov Jabar berkomitmen menjadikan hasil penelitian sebagai kompas pengambilan keputusan. Terutama peningkatan produktivitas ekonomi dan sektor pertanian.
Implementasi konkretnya adalah penggunaan benih padi unggul hasil riset BRIN. Gubernur optimistis teknologi benih ini dongkrak produksi gabah Jabar.
“Dari Jawa Barat akan lahir benih-benih baru,” jelasnya. Benih dari BRIN diharapkan bisa digunakan masyarakat pada musim tanam kedua sekitar Mei atau Juni.
Saat ini, rata-rata produksi padi di Jawa Barat 4-5 ton per hektare. Dengan benih unggul dan dukungan irigasi, targetnya naik jadi 7-10 ton per hektare dengan frekuensi panen tiga kali setahun.
Kepala BRIN menyambut baik visi Gubernur Jawa Barat. BRIN akan segera membangun Rumah Inovasi Daerah di Jawa Barat.
Fasilitas ini akan jadi pusat ekosistem riset untuk akselerasi pembangunan ekonomi, sosial, hingga pengelolaan lingkungan.
Selain pangan, sinergi Pemprov Jabar dan BRIN juga mencakup penataan tata ruang, pengembangan varietas lokal, serta penguatan sektor perikanan dan peternakan.
“Intinya, kita bersinergi meningkatkan produktivitas pangan di Jawa Barat dengan tetap memegang teguh prinsip menjaga kelestarian lingkungan,” pungkas Kepala BRIN.














