Berita

SPPG Baru Masak Terlalu Awal, MBG Diduga Jadi Penyebab

116
×

SPPG Baru Masak Terlalu Awal, MBG Diduga Jadi Penyebab

Sebarkan artikel ini
kepala-bgn-soal-keracunan-mbg-di-bandung-barat,-sebut-sppg-baru-masak-‘kepagian’
kepala bgn soal keracunan mbg di bandung barat, sebut sppg baru masak ‘kepagian’

Jakarta – Badan Gizi Nasional (BGN) menemukan kesalahan teknis dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menyebabkan makanan dimasak terlalu awal dan tersimpan lama sebelum didistribusikan.

Kepala BGN, Dadan Hindayana, mengungkapkan temuan awal ini saat meninjau posko penanganan dugaan keracunan makanan MBG di Cipongkor, Bandung Barat, Jawa Barat, Selasa (23/9/2025).

Dadan meminta Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk segera memperbaiki pola memasak.

“SPPG memasak terlalu awal sehingga masakan terlalu lama,” ujar Dadan.

BGN telah berkoordinasi dengan seluruh SPPG baru dan meminta mereka memulai memasak di atas pukul 01.30 agar waktu antara memasak dan pengiriman tidak lebih dari 4 jam.

Menurut Dadan, pola memasak dan distribusi adalah kunci utama menjaga kualitas makanan. SPPG lama dinilai sudah memiliki ritme kerja yang baik, sementara SPPG baru seringkali khawatir tidak selesai tepat waktu sehingga memasak terlalu dini.

Dadan menginstruksikan SPPG baru untuk memulai dengan melayani dua sekolah terlebih dahulu, kemudian secara bertahap meningkatkan jumlah sekolah yang dilayani.

BGN juga menyoroti kasus serupa di Banggai, Sulawesi Tengah, di mana penggantian pemasok bahan baku secara mendadak menyebabkan penurunan kualitas makanan.

“SPPG yang lama agar ketika akan mengganti pemasok harus bertahap,” tegas Dadan.

Saat ini, BGN bersama pihak terkait sedang menganalisis kejadian di Banggai dan Cipongkor. Program MBG di SPPG Cipongkor telah dihentikan sementara.

Dadan menegaskan evaluasi tidak hanya dilakukan di Cipongkor, tetapi juga pada SPPG baru lainnya. Ia juga mengingatkan pentingnya penanganan psikologis anak-anak penerima manfaat.

“Anak-anak yang mengalami gangguan pencernaan pasti akan mengalami trauma,” pungkasnya.