Berita

Kirab Pencak Malioboro Yogyakarta Gaungkan Perdamaian dan Persatuan

95
×

Kirab Pencak Malioboro Yogyakarta Gaungkan Perdamaian dan Persatuan

Sebarkan artikel ini
db41ff2a1cfe0e82a2b795e2bc5c24de.jpg
db41ff2a1cfe0e82a2b795e2bc5c24de.jpg

Yogyakarta – Suasana akhir pekan di Jalan Malioboro, Yogyakarta, tampak lebih semarak pada Ahad, 14 September 2025. Ribuan pesilat dari berbagai aliran dan perguruan di Indonesia menggelar kirab damai sebagai puncak agenda Pencak Malioboro Festival 2025.

Acara yang diinisiasi oleh komunitas Paseduluran Angkringan Silat (PAS) dan Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta ini menjadi ajang silaturahmi sekaligus seruan perdamaian. Para pesilat berkumpul untuk menyerukan perdamaian, menyusul gelombang unjuk rasa diwarnai ricuh yang terjadi di berbagai daerah sepanjang akhir Agustus hingga awal September lalu.

Sejak pagi hingga siang hari, Jalan Malioboro ditutup sementara untuk kirab. Pertokoan dan pusat belanja tetap beroperasi seperti biasa, meskipun arus lalu lintas dialihkan. Wisatawan memadati area pedestrian di sisi timur dan barat Malioboro, turut menyaksikan kemeriahan acara.

Kirab dimulai dengan tiga pendekar berpakaian putih bersenjata panah tradisional menaiki tiga kuda putih sebagai barisan terdepan. Disusul kemudian oleh bregada prajurit serta barisan pembawa panji-panji dari 50 perguruan silat. Kirab ini berakhir di Kawasan Titik Nol Kilometer Yogyakarta, dilanjutkan dengan penampilan pencak silat dari setiap perguruan di depan publik.

Paniradya Pati Keistimewaan DIY, Aris Eko Nugroho, menuturkan bahwa event kirab dari komunitas silat ini kembali digelar setelah terakhir kali diadakan pada 2019, sebelum pandemi Covid-19. “Baru tahun ini dilaksanakan kembali ketika situasi sudah benar-benar kondusif,” kata Aris.

Aris menjelaskan, rangkaian acara yang berlangsung pada 12-14 September ini tidak sekadar menjadi ajang silaturahmi bagi lima ribu pesilat dari berbagai perguruan di Indonesia. Lebih dari itu, festival ini mengampanyekan pesan damai yang harus terus terjaga, tanpa kericuhan dan keributan. “Ini menjadi gambaran bahwa pencak silat yang ada di Indonesia bukan kekerasan yang ditonjolkan, tetapi kebersamaan,” ujarnya.

Ajang ini juga diikuti kontingen dari sejumlah negara tetangga seperti Malaysia hingga Filipina, menjadi bukti konkret bahwa Yogyakarta masih menjadi daerah yang aman untuk kunjungan wisata. “Wisatawan yang datang ke Yogyakarta bisa merasakan suasananya yang tetap aman, damai, dan bersahabat bagi siapa pun,” tambah Aris.

Pencak Malioboro Festival 2025 diisi dengan beragam agenda, antara lain 6 Jam Pencak Silat di Kota Yogyakarta, Lomba Koreografi Pencak, Lomba Mewarnai Pencak Silat untuk Anak-anak, dan Workshop Pencak Silat, dengan Kirab Pencak Malioboro sebagai puncak kegiatan.