Berita

Media Asing Soroti Banjir Bali: Terparah dalam Satu Dekade

121
×

Media Asing Soroti Banjir Bali: Terparah dalam Satu Dekade

Sebarkan artikel ini
84c6ffe03bf87d92a087afa3c53fd23f.jpg
84c6ffe03bf87d92a087afa3c53fd23f.jpg

Denpasar – Banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Bali dalam sepekan terakhir telah menjadi sorotan media asing, dengan laporan yang menyebutkan sedikitnya 19 orang tewas dan kerusakan meluas. Hujan deras yang mengguyur sejak awal pekan memicu luapan sungai, longsor, hingga menenggelamkan pemukiman warga, serta memutus akses jalan dan merusak jembatan di berbagai titik.

Insiden ini disebut sebagai yang terparah dalam satu dekade terakhir di Bali, menyebabkan sedikitnya 14 orang meninggal di pulau Dewata tersebut. Dua orang lainnya dilaporkan hilang, sementara ratusan warga terpaksa dievakuasi untuk menyelamatkan diri dari ancaman banjir.

Selain Bali, bencana serupa juga melanda wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Pulau Flores, menambah jumlah korban tewas menjadi total 19 orang, dengan 5 korban jiwa tercatat di Flores. Sebanyak 10 orang lainnya masih dinyatakan hilang akibat terjangan air bah.

Dalam laporannya, salah satu media asing menyoroti kerusakan infrastruktur yang parah, termasuk jembatan dan jalan utama yang tertutup longsor, membuat akses menjadi sangat sulit. Warga bernama Tasha mengaku terkejut dengan skala banjir kali ini, menyebutnya “sangat parah.” Kondisi ini diperparah oleh masalah sampah dan buruknya sistem drainase yang telah lama menjadi persoalan di pulau wisata tersebut.

Kondisi dramatis juga terjadi di Denpasar, di mana sungai meluap dan menghanyutkan bangunan, termasuk di kawasan pasar Kumbasari. Kepala Basarnas Bali, Nyoman Sidakarya, menyatakan empat korban ditemukan di sebuah bangunan yang tersapu banjir di Denpasar.

Gubernur Bali Wayan Koster menegaskan bahwa bencana ini tidak hanya menimbulkan korban jiwa, tetapi juga kerugian ekonomi yang signifikan bagi para pedagang dan pelaku usaha pariwisata.

Seorang produser musik asal Jerman, Philipp Peltz, menceritakan pengalamannya terjebak banjir saat hendak menuju bandara. Ia harus menempuh perjalanan tiga setengah jam dengan skuter melewati genangan air setinggi pinggang. “Saya sudah mengunjungi Bali selama lebih dari satu dekade dan saya belum pernah melihat banjir seperti ini,” ujarnya.

Kisah dramatis lainnya datang dari Shelly Anissa Sulatumena, seorang warga Australia disabilitas yang telah 15 tahun tinggal di Denpasar. Anjing-anjing peliharaannya justru menjadi penyelamat ketika air bah tiba-tiba masuk ke rumah. “Anjing-anjing saya membuat suara aneh, dan ketika saya cek, ternyata air sudah masuk begitu deras. Kalau saya tidak mendengar mereka, mungkin kami semua sudah tenggelam,” kata Sulatumena dengan suara bergetar.

Sulatumena, yang terpisah dari kursi rodanya, terpaksa berlindung di kamar tidur sambil berusaha menahan masuknya air dengan selimut dan handuk sebelum seorang tetangga datang menembus banjir dan memanjat pagar untuk membukakan pintu rumahnya. Ia juga mengeluhkan tidak adanya peringatan dini resmi sebelum banjir besar itu terjadi, dan menyebut jalanan sekitar rumahnya masih rusak berat dengan munculnya lubang besar akibat tergerus air.