FENESIA – Lebaran biasanya mendongkrak penjualan ritel. Namun, tahun ini, tren tersebut justru berbalik arah.
Ketua Umum Himpunan Peritel & Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo), Budihardjo Iduansjah, menyebut penjualan belum mencapai target. Ia mengaku kemampuannya hanya berada di angka 85–90 persen.
“Target kita 100 persen, tapi realisasinya baru 85–90 persen,” ujarnya, Selasa (15/4/2025).
Beberapa faktor yang mempengaruhi penurunan ini. Salah satunya ialah minimnya stok barang di pusat dunia.
Budihardjo menjelaskan, hambatan impor menjadi penyebab utama menipisnya stok barang.
“Peraturan sekarang kurang kondusif. Toko besar pun barangnya terbatas. Padahal promosi butuh stok cukup,” katanya.
Ia menilai, kebijakan impor malah menyulitkan pengusaha. Menurutnya, kuota impor membuat pelaku usaha kesulitan.
“Kalau tokonya jelas, bayar pajak, seharusnya impor bisa mudah. Tapi sekarang malah dibatasi,” jelas Budihardjo.
Meski begitu, program Belanja di Indonesia Saja (BINA) sempat memenuhi optimisme.
Program ini mencatat transaksi Rp32 triliun selama 14–31 Maret 2025. Namun, angka itu tetap di bawah target Rp36 triliun.
“Untung ada BINA. Tanpa BINA, mungkin lebih rendah. Tapi tetap turun dibanding tahun lalu,” ucapnya.
Penjualan ritel secara keseluruhan belum menunjukkan kinerja yang berarti. Hanya produk perawatan pribadi yang mencatat kenaikan.
“Penjualan apotek dan personal care naik karena kanal online. Tapi toko baju dan restoran stagnan,” tuturnya.
Budihardjo menambahkan, daya beli masyarakat belum pulih sepenuhnya. Banyak konsumen masih menahan belanja.
“Orang takut kehilangan pekerjaan, jadi menahan diri. Kebijakan justru semakin menekan, bukan mendorong,” tutupnya.














