Fenesia – 24 Maret 1964 dikenal sebagai hari patah hati pertama nasional di Indonesia. Bagaimana tidak? seorang wanita cantik bernama Gusti Nurul menolak banyak laki-laki mapan dan sangat berpengaruh di Indonesia.
Gusti Raden Ayu Siti Noeroel Kamaril Ngasarati Kusumawardhani atau akrab dikenal dengan nama Gusti Noeroel (lahir di Surakarta pada tahun 1921, meninggal tanggal 10 November 2015 dalam usia 94 tahun) adalah putri tunggal dari kanjeng gusti pangeran adipati aryo mangkunegoro VII (tujuh), dari permaisurinya, Gusti Kanjeng Ratu Timoeru.
Dikutip dari Wiken, Gusti Nurul merupakan salah satu orang Indonesia yang wajahnya pernah masuk dalam majalah legendaris, Life, yang merupakan majalah terbitan Amerika Serikat.
Tepatnya pada 25 Januari 1937 atau terbitan ke 25 majalah tersebut memajang foto Gusti Nurul tengah menari di hari pernikahan Putri Juliana dan Pangeran Bernard.
Acara pernikahan tersebut diadakan pada 6 Januari 1937 saat Gusti Nurul masih berusia 15 tahun.
lalu siapakah pria mapan dan berjasa yang ditolak oleh gusti nurul?
Ir. Soekarno

Presiden pertama Indonesia
“Eyang, kenapa nggak mau sama Pak Sukarno? Pak Sukarno kan cakep banget?”
Pertanyaan itu pernah dilontarkan oleh cucu Gusti Nurul dan diceritakan dalam blog sang cucu “My Life in Words” milik R.Aj.Dwinandini Wiragasari.
Selain soal prinsipnya menolak poligami, Gusti Nurul juga berprinsip bahwa perempuan tidak hanya berada di dapur. Perempuan juga bisa aktif berkegiatan dan bersosialisasi dengan dunia luar.
Sutan Syahrir

Perdana Mentri Pertama Di Indonesia
Sutan Syahrir dikenal sebagai seorang pemikir dan juga perintis berdirinya Republik Indonesia. Ia dikenal dengan julukan ‘Si Kancil’ dan juga ‘The Smiling Diplomat.’Beliau dikenal sebagai perdana menteri pertama Indonesia ketika Republik Indonesia merdeka pada tahun 1945. Berkat jasa-jasanya pula, pemerintah Indonesia memberikan tanda kepada Sutan Syahrir sebagai Pahlawan Nasional Indonesia.
Sutan Hamengkubuwono IX

Raja Kasultanan Yogyakarta itu pernah bermaksud meminang Gusti Nurul pada saat sang ayah Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara VII (1885-1944) masih hidup.
Namun ia terang-terangan menolak pinangan sang raja Yogyakarta, alasannya karena pantang baginya seorang perempuan berpendidikan tinggi di zaman itu dimadu seperti yang dialami Kartini.
Jendal GPH Djatikusumo

Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad) pertama di Indonesia.
Jenderal TNI Goesti Pangeran Harjo Djatikoesoemo adalah mantan Kepala Staf TNI Angkatan Darat yang pertama dan mantan Duta Besar RI untuk Singapura. Djatikoesoemo adalah putra bangsa yang berdarah keraton, terlahir sebagai putra ke-23 dari Susuhunan Pakubuwono X.
Setelah menolak 4 petinggi Indonesia ini, Gusti Nurul lantas memilih pria dari kalangan orang biasa dan tentunya masih melajang.
Pria yang beruntung tersebut adalah Raden Mas Sujarso Surjosurarso atau Kolonel Surjo Sularso.
Ia adalah lulusan Akademi Militer Kerajaan Belanda di Breda.







