Jakarta – Bursa Efek Indonesia (BEI) bersama Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) resmi memperluas daftar saham dengan kepemilikan terkonsentrasi tertinggi atau High Shareholding Concentration (HSC) menjadi 54 emiten pada Kamis (6/8/2026).
Dilansir dari data BEI, penambahan tersebut mencakup tiga emiten baru yakni PT Asia Sejahtera Mina Tbk (AGAR), PT Alakasa Industrindo Tbk (ALKA), dan PT Bukit Darmo Property Tbk (BKDP).
Saham AGAR tercatat memiliki tingkat konsentrasi kepemilikan mencapai 99,32% per 31 Juli 2026.
Saham ALKA mencatatkan tingkat konsentrasi kepemilikan sebesar 98,21% pada periode yang sama.
Saham BKDP melengkapi daftar tersebut dengan angka konsentrasi kepemilikan sebesar 95,45%.
Otoritas bursa sebelumnya telah merevisi metodologi penentuan saham HSC dengan menambahkan kriteria price impact ratio khusus bagi emiten berkapitalisasi pasar di atas Rp 10 triliun.
Pihak bursa melakukan penyaringan terhadap saham-saham yang memiliki price impact ratio tinggi untuk mengidentifikasi potensi konsentrasi kepemilikan yang tidak proporsional.
Metrik price impact ratio dihitung dengan membandingkan perubahan harga saham terhadap velocity, yakni rasio antara rata-rata volume transaksi dan jumlah saham yang beredar di publik atau free float.
Semakin rendah volume transaksi suatu saham, maka semakin rendah pula tingkat velocity yang dihasilkan.
“Dengan velocity yang rendah tetapi perubahan harga yang besar tentu akan menghasilkan price impact ratio tinggi,” kata Jeffrey.
Jeffrey menambahkan bahwa atas saham-saham dengan rasio tersebut, bursa akan melakukan screening terhadap potensi ada atau tidaknya HSC.
Evaluasi menggunakan kriteria price impact ratio ini akan diterapkan secara berkala setiap tiga bulan mengikuti siklus evaluasi indeks utama BEI.
Daftar 54 saham HSC per 6 Agustus 2026 mencakup berbagai emiten besar seperti PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dengan konsentrasi 97,31% dan PT Bayan Resources Tbk (BYAN) sebesar 98,50%.
Selain itu, terdapat PT DCI Indonesia Tbk (DCII) dengan konsentrasi 99,96% serta PT Bank Permata Tbk (BNLI) yang mencapai 99,92%.
Emiten lain yang masuk dalam daftar meliputi PT MD Entertainment Tbk (FILM) sebesar 92,98% dan PT Global Digital Niaga Tbk (BELI) sebesar 93,83%.
Seluruh data tersebut merupakan hasil pemantauan rutin yang dilakukan oleh otoritas pasar modal untuk menjaga transparansi dan keterbukaan informasi di pasar saham Indonesia.
Penambahan kriteria ini diharapkan dapat memberikan gambaran yang lebih akurat mengenai distribusi kepemilikan saham di kalangan investor publik.
Langkah ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan BEI dalam meningkatkan kualitas data dan pengawasan terhadap emiten-emiten yang terdaftar di papan perdagangan.







