Ecozone

Indosat Bidik Pinjaman Rp35 Triliun untuk Ekspansi Investasi AI

30
×

Indosat Bidik Pinjaman Rp35 Triliun untuk Ekspansi Investasi AI

Sebarkan artikel ini
Logo PT Indosat Tbk terpampang di kantor pusat perusahaan di Jakarta.
PT Indosat Tbk berencana menghimpun pinjaman sebesar Rp35,87 triliun untuk mendanai investasi chip kecerdasan buatan.

Jakarta – PT Indosat Tbk (ISAT) tengah berupaya menghimpun pinjaman sebesar US$ 2 miliar atau setara Rp 35,87 triliun untuk mendanai pengadaan chip kecerdasan buatan (AI) canggih guna memperkuat operasional domestik pada Rabu (5/8/2026).

Dilansir dari Bloomberg, Citigroup Inc. telah ditunjuk sebagai koordinator dalam penataan pinjaman tersebut dan saat ini sedang melakukan pendekatan kepada sejumlah perbankan untuk berpartisipasi dalam pembiayaan ini.

Hingga berita ini ditayangkan, tim komunikasi Indosat belum memberikan tanggapan resmi terkait permintaan konfirmasi mengenai rencana pinjaman tersebut.

Langkah korporasi ini mencerminkan tren global di mana bank serta dana kredit swasta semakin agresif dalam menyalurkan pembiayaan ke sektor AI, baik untuk pembangunan pusat data maupun pengadaan perangkat keras pendukung seperti chip.

Para kreditur menilai investasi pada segmen infrastruktur AI menawarkan imbal hasil yang lebih menarik dibandingkan sektor konvensional lainnya.

Meski demikian, terdapat tantangan signifikan bagi pemberi pinjaman, terutama terkait perdebatan mengenai keberlanjutan investasi AI serta ketidakpastian geopolitik akibat persaingan teknologi antara Amerika Serikat dan Tiongkok.

Aktivitas pendanaan serupa juga terjadi di pasar internasional, seperti upaya GMI Cloud yang mencari pinjaman multi-tranche senilai US$ 633 juta untuk proyek fasilitas di Taiwan.

Selain itu, Brookfield Asset Management bersama Tor Investment Management baru saja mengucurkan pinjaman sebesar US$ 255 juta kepada perusahaan infrastruktur AI, PaleBlueDot AI.

Rencana pencarian dana ini beriringan dengan laporan kinerja keuangan PT Indosat Tbk yang mencatatkan penurunan laba bersih sebesar 14,65% secara tahunan menjadi Rp 2,33 triliun selama semester pertama tahun ini.

Manajemen Indosat menyatakan bahwa penurunan laba tersebut dipicu oleh melemahnya pendapatan serta kenaikan pada beban penyelenggaraan jasa, beban penyusutan, dan amortisasi.

“(Penurunan laba) diimbangi oleh penurunan beban karyawan, beban pemasaran, beban umum dan administrasi, serta kenaikan penghasilan (beban) operasional lain-lain,” kata manajemen Indosat.

Secara keseluruhan, pendapatan emiten telekomunikasi ini tercatat turun 3,11% menjadi Rp 27,10 triliun selama paruh pertama tahun 2026.

Segmen bisnis selular mengalami kontraksi sebesar 3,6% menjadi Rp 22,74 triliun akibat penurunan pada pendapatan data, telepon, dan layanan SMS.

Bisnis multimedia, komunikasi data, dan internet (MIDI) juga mencatatkan penurunan sebesar 1,2% menjadi Rp 3,96 triliun.

Sementara itu, pendapatan dari sektor telekomunikasi lainnya anjlok sebesar 13,2% menjadi Rp 398,28 miliar karena tergerusnya pendapatan dari layanan telepon internasional.

Laporan keuangan tersebut menunjukkan bahwa meskipun terdapat tantangan pada sisi pendapatan, perusahaan terus berupaya melakukan efisiensi pada beban operasional guna menjaga stabilitas keuangan di tengah ekspansi teknologi yang masif.

Kebutuhan akan chip AI dinilai sebagai langkah strategis perusahaan untuk tetap kompetitif di tengah pesatnya adopsi teknologi kecerdasan buatan di pasar Asia.

Proses negosiasi pinjaman ini diperkirakan akan menjadi indikator kepercayaan pasar terhadap rencana jangka panjang Indosat dalam mengembangkan infrastruktur digital di Indonesia.