Ecozone

Geliat Saham Harita NCKL Usai Masuk Indeks LQ45 dan IDX80

17
×

Geliat Saham Harita NCKL Usai Masuk Indeks LQ45 dan IDX80

Sebarkan artikel ini
Logo Bursa Efek Indonesia di gedung BEI Jakarta
Bursa Efek Indonesia menetapkan PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) sebagai konstituen baru indeks LQ45.

Jakarta – Saham emiten nikel PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) dan PT Indika Energy Tbk (INDY) diproyeksikan akan mengalami peningkatan likuiditas signifikan setelah resmi menjadi konstituen baru dalam indeks LQ45 hasil evaluasi Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Rabu (29/7/2026).

Dilansir dari Katadata.co.id, perubahan susunan konstituen tersebut akan berlaku efektif mulai 3 Agustus hingga 30 Oktober 2026, menggantikan PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) dan PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) yang dikeluarkan dari indeks tersebut.

Indeks LQ45 merupakan kumpulan 45 saham dengan tingkat likuiditas tertinggi yang dipilih berdasarkan volume perdagangan serta kapitalisasi pasar yang besar di pasar modal Indonesia.

Investment Specialist Korea Investment Sekuritas Indonesia (KISI) Azharys Hardian menilai masuknya INDY dan NCKL menjadi katalis positif bagi perusahaan untuk menarik minat investor institusi.

“Masuknya INDY dan NCKL ke dalam indeks LQ45 menjadi sinyal positif yang secara otomatis memperluas jangkauan kedua emiten ini ke dalam radar investor institusi,” kata Azharys.

Menurut Azharys, perubahan konstituen ini berpotensi memicu passive inflow dari reksa dana indeks maupun exchange traded fund (ETF) yang menjadikan LQ45 sebagai acuan investasi.

Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah Elandry Pratama sepakat bahwa sentimen ini meningkatkan visibilitas emiten di mata pasar, meskipun dampak fundamental jangka panjang tetap bergantung pada kinerja perusahaan.

Elandry mencatat bahwa transformasi bisnis INDY dari sektor batu bara menjadi grup energi dan hilirisasi telah mulai memberikan kontribusi positif terhadap diversifikasi pendapatan perseroan.

“Di sisi lain, risiko utamanya tetap berasal dari volatilitas harga batu bara global, kebutuhan belanja modal yang tinggi, serta ketidakpastian perkembangan proyek baru,” ujar Elandry.

Khusus untuk NCKL, Azharys menyoroti keuntungan ganda karena emiten tersebut juga berhasil masuk ke dalam konstituen indeks IDX80 yang memperluas akses sebagai underlying asset produk waran terstruktur.

Kinerja NCKL diprediksi membaik pada semester kedua tahun ini seiring dengan beroperasinya proyek Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF) berkapasitas 65.000 ton feronikel per tahun.

Fasilitas produksi kapur tohor milik NCKL juga diharapkan mampu meningkatkan efisiensi operasional pabrik High Pressure Acid Leach (HPAL) dan margin keuntungan perusahaan.

Investor tetap diminta waspada terhadap fluktuasi harga nikel global serta dinamika permintaan industri kendaraan listrik yang menjadi penentu utama prospek sektor tersebut.

KISI menetapkan target harga saham INDY sebesar Rp 3.200 per saham dan target harga NCKL di level Rp 1.000 per saham.

Elandry mempertahankan rekomendasi beli untuk kedua saham tersebut dengan target harga akhir tahun masing-masing di level Rp 2.800 untuk INDY dan Rp 1.350 untuk NCKL.

Pihaknya menegaskan bahwa masuknya saham ke dalam indeks utama sebaiknya dipandang sebagai katalis tambahan dan bukan menjadi satu-satunya dasar pengambilan keputusan investasi bagi para pelaku pasar.