New York – Indeks bursa Wall Street di Amerika Serikat mencatatkan penguatan signifikan pada perdagangan Rabu (22/7/2026), didorong oleh lonjakan saham di sektor semikonduktor serta respons positif pasar terhadap laporan laba emiten di tengah meredanya kekhawatiran geopolitik antara AS dan Iran.
Dilansir dari CNBC, indeks Dow Jones Industrial Average ditutup naik 385,38 poin atau 0,74% ke level 52.224,64, sementara S&P 500 menguat 0,89% menjadi 7.509,20 dan Nasdaq Composite melonjak 1,29% ke level 25.837,21.
Kenaikan ketiga indeks utama tersebut secara efektif mengakhiri tren koreksi yang telah berlangsung selama tiga hari berturut-turut di pasar modal Amerika Serikat.
Sektor semikonduktor menjadi motor utama penggerak pasar, dengan VanEck Semiconductor ETF (SMH) mencatatkan kenaikan lebih dari 4% sepanjang sesi perdagangan.
Penguatan sektor tersebut dipicu oleh aksi beli investor pada saham Micron Technology yang naik 12%, Intel sebesar 8%, Marvell Technology lebih dari 6%, serta Astera Labs sekitar 3%.
Performa positif juga ditunjukkan oleh emiten di luar sektor teknologi, di mana saham 3M melonjak lebih dari 7% setelah membukukan laba kuartal kedua yang melampaui estimasi analis.
General Motors turut mencatatkan apresiasi harga saham hampir 5% menyusul laporan pendapatan dan keuntungan perusahaan yang berada di atas ekspektasi pasar.
Berdasarkan data FactSet, sekitar 88% dari 66 perusahaan anggota S&P 500 yang telah merilis laporan kinerja keuangan periode ini berhasil membukukan laba di atas proyeksi analis.
Fokus investor kini tertuju pada rilis laporan keuangan dari sejumlah raksasa teknologi, termasuk Alphabet, IBM, dan Tesla, yang dijadwalkan akan keluar dalam beberapa hari mendatang.
“Dua pekan ke depan akan menjadi periode yang sangat menentukan bagi musim laporan keuangan, dan bukan hanya untuk sektor teknologi,” kata analis investasi eToro, Bret Kenwell.
Menurut Kenwell, ekspektasi pasar saat ini berada pada level yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan periode kuartal sebelumnya.
“Situasinya berbeda dibandingkan kuartal lalu ketika ketidakpastian membuat ekspektasi pasar lebih rendah. Kini, setelah indeks mencetak rekor tertinggi, hasil yang baik pun belum tentu cukup memuaskan investor,” ujar Kenwell.
Pasar sempat mengalami tekanan pada hari sebelumnya akibat meningkatnya eskalasi konflik antara AS dan Iran yang memicu kekhawatiran terhadap stabilitas di Timur Tengah.
Sentimen pasar sedikit pulih setelah muncul laporan mengenai adanya upaya diplomatik baru yang mengusulkan gencatan senjata selama 10 hari antara kedua negara tersebut.
Meskipun upaya mediasi tengah berlangsung, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) tetap ditutup naik sekitar 2% menjadi US$ 84,91 per barel.
Sementara itu, minyak acuan global Brent juga mencatatkan penguatan sebesar 2% hingga ditutup pada level US$ 91,01 per barel.







