Jakarta – Aktivitas penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO) di Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat kinerja melambat dengan hanya tujuh perusahaan yang resmi melantai di bursa hingga Jumat (10/7/2026), dengan total dana yang dihimpun mencapai Rp 1,67 triliun.
Dilansir dari data resmi BEI, jumlah emiten baru tersebut menunjukkan penurunan signifikan dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya yang mencatatkan 18 perusahaan.
Direktur Penilaian Perusahaan BEI, Saidu Solihin, menyatakan bahwa keberhasilan pasar modal tidak ditentukan semata-mata oleh kuantitas perusahaan yang melantai atau besaran dana yang terkumpul.
“Kami tidak dapat melihat keberhasilan pasar perdana hanya dari jumlah transaksi atau nilai dana yang dihimpun, melainkan lebih kepada kualitas perusahaan yang masuk ke pasar modal, baik dari sisi fundamental, tata kelola, maupun kesiapannya menjadi perusahaan terbuka,” kata Saidu.
Pihak bursa mencatat terdapat enam perusahaan yang saat ini berada dalam antrean atau pipeline IPO, yang didominasi oleh perusahaan dengan aset besar.
Sektor kesehatan menjadi kontributor utama dalam antrean tersebut, diikuti oleh sektor consumer cyclicals, consumer non-cyclicals, serta basic materials.
Terkait target 50 IPO yang ditetapkan untuk tahun ini, pihak BEI saat ini tengah mempertimbangkan kemungkinan revisi target tersebut meskipun belum ada keputusan final yang diambil.
Saidu tetap menyatakan optimisme bahwa target tersebut masih berpotensi tercapai apabila kondisi pasar domestik dan sentimen global mengalami perbaikan pada paruh kedua tahun ini.
“Kalau kita berjuang, kalau kita bisa dapet trust secepat mungkin, kondisi juga membaik, geopolitik, dan segala macamnya support,” ujar Saidu.
Sebagai langkah strategis, bursa terus memperkuat edukasi dan pendampingan kepada calon emiten melalui berbagai program seperti Go Public Seminar, workshop, hingga coaching clinic.
Reformasi integritas pasar modal yang melibatkan peningkatan porsi saham publik atau free float serta transparansi ultimate beneficial owner (UBO) diklaim bukan menjadi beban tambahan bagi perusahaan.
Pihak BEI memastikan bahwa kebijakan tersebut diterapkan secara bertahap melalui masa transisi dan komunikasi intensif dengan seluruh pelaku pasar terkait.
Minat perusahaan untuk menghimpun pendanaan melalui pasar modal sebenarnya masih tergolong tinggi jika melihat instrumen efek bersifat utang dan sukuk (EBUS).
Data mencatat sebanyak 71 penerbitan EBUS dari 43 perusahaan telah berhasil menghimpun dana sebesar Rp 76,1 triliun sepanjang tahun berjalan.
Antrean enam perusahaan untuk melakukan IPO diproyeksikan dapat menambah penghimpunan dana setidaknya sebesar Rp 2,47 triliun ke pasar modal.
Manajemen BEI berkomitmen menjaga keseimbangan antara penguatan kualitas pasar dengan tetap mempertahankan daya tarik bursa sebagai sarana pendanaan bagi korporasi.






