Ecozone

Kementerian ESDM: 57 Persen SPBU Pertamina Kini Sediakan Biodiesel B50

17
×

Kementerian ESDM: 57 Persen SPBU Pertamina Kini Sediakan Biodiesel B50

Sebarkan artikel ini
42a2a224253cce564d9bfa18a1911e7c.jpg
42a2a224253cce564d9bfa18a1911e7c.jpg

Karawang, Fenesia.com – Pemerintah Indonesia resmi mencatatkan sejarah sebagai negara pertama di dunia yang mengimplementasikan program mandatori biodiesel 50 persen atau B50 secara masif.

Langkah strategis ini ditandai dengan dimulainya penyaluran bahan bakar nabati tersebut ke 57 persen stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) yang dikelola oleh Pertamina.

Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, mengonfirmasi progres distribusi tersebut di Karawang, Jawa Barat, Kamis (9/7).

“B50 sudah ada di 57% SPBU Pertamina,” katanya.

Cakupan wilayah penyaluran tahap awal ini telah menjangkau berbagai titik strategis di Pulau Jawa, Sumatra, hingga sebagian wilayah Sulawesi.

Pihaknya memastikan bahwa sejumlah lokasi krusial di pusat industri dan mobilitas telah sepenuhnya beralih menggunakan campuran biodiesel tersebut.

“B50 sudah disalurkan beberapa titik mulai 1 Juli. Di wilayah Cikampek sudah B50 semua, termasuk di Surabaya dan Jakarta,” ujarnya.

Program B50 sendiri mewajibkan pencampuran biodiesel berbasis minyak nabati atau hewani sebesar 50 persen ke dalam produk solar guna menekan ketergantungan pada bahan bakar fosil.

Pemerintah memberikan masa transisi bagi badan usaha untuk menghabiskan stok B40 yang masih tersedia di pasar hingga 30 September 2026.

Pertamina diproyeksikan mampu menghabiskan sisa stok B40 dalam kurun waktu dua bulan ke depan.

Sementara itu, 34 badan usaha swasta lainnya diperkirakan membutuhkan waktu sekitar tiga bulan untuk melakukan penyesuaian stok.

Terkait kebutuhan volume Fatty Acid Methyl Ester (FAME) sebagai komponen utama biodiesel, pemerintah masih melakukan perhitungan dinamis.

Ia menjelaskan, “Hitungannya 16,7-18 juta kilo liter, ini bergerak terus angkanya. Angka minimal yang bisa kami keluarkan itu (volume) 16,7 juta kilo liter tapi kalau bisa mencapai lebih dari itu bagus.”

Peluncuran program ini dilakukan langsung oleh Presiden Prabowo Subianto di Rest Area KM 57 Cikampek, Karawang.

Dalam pidatonya, ia menegaskan bahwa kebijakan ini merupakan manifestasi kemandirian energi nasional melalui pemanfaatan kekayaan alam domestik.

“Indonesia resmi menjadi negara pertama di dunia yang menerapkan mandatory biodiesel B50. Ini bukan sekadar pencapaian teknologi, ini adalah bukti Indonesia mampu memanfaatkan kekayaan alamnya sendiri untuk kepentingan rakyatnya sendiri,” kata Prabowo.

Presiden menekankan bahwa akselerasi bauran energi ini sudah direncanakan sejak masa transisi pemerintahan.

Target jangka panjang pemerintah bahkan diproyeksikan hingga mencapai penggunaan B100 di masa depan.

Ia optimistis bahwa implementasi B50 akan menutup keran impor solar secara signifikan bagi kebutuhan dalam negeri.

“Jadi ini adalah suatu prestasi bangsa yang luar biasa,” lanjutnya.

Kebijakan ini diharapkan mampu mendongkrak nilai tambah komoditas kelapa sawit di dalam negeri sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional di tengah fluktuasi harga minyak mentah dunia.