Berita

BMKG Ungkap Letusan Gunung Bawah Laut Papua Nugini Pemicu Batu Apung

14
×

BMKG Ungkap Letusan Gunung Bawah Laut Papua Nugini Pemicu Batu Apung

Sebarkan artikel ini
perairan-di-papua-viral-dipenuhi-batu-apung,-ini-penjelasan-bmkg
perairan di papua viral dipenuhi batu apung, ini penjelasan bmkg

Jakarta – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan fenomena batu apung yang membanjiri perairan Sarmi hingga Biak, Papua, merupakan dampak dari erupsi gunung api bawah laut di utara Papua Nugini. Peristiwa ini sempat menyita perhatian publik setelah rekaman video yang memperlihatkan tumpukan material vulkanik tersebut menepi ke daratan viral di media sosial.

Kepala Stasiun BMKG Maritim Jayapura, Heri Purnomo, menjelaskan bahwa material tersebut berasal dari aktivitas vulkanik di Laut Bismarck.

“Berdasarkan penelusuran kami terdapat letusan gunung berapi bawah laut di Laut Bismarck sebelah utara PNG (Papua Nugini), di mana penumpukan lava telah menghasilkan massa batu apung yang mengapung ke permukaan pada sekitar tanggal 8 Juni 2026 di sekitaran Selat Loniu,” ujar Heri Purnomo, Rabu (8/7).

Setelah mencapai permukaan, sambungnya, batu apung tersebut terbawa oleh arus laut yang mengarah ke wilayah barat perairan Papua. Kondisi arus itulah yang menyebabkan material tersebut akhirnya terdampar di pesisir Sarmi hingga Biak.

“Berdasarkan pergerakan arus permukaan laut kondisi arus bergerak ke arah barat sehingga batu apung yang terlihat di Selat Swanggara, untuk itu butuh penelitian lebih lanjut terkait gunung berapi di wilayah Papua,” tuturnya.

Heri menegaskan, hingga saat ini tidak ditemukan adanya gunung berapi bawah laut aktif di wilayah Papua. BMKG mencatat bahwa pergerakan material vulkanik tersebut murni mengikuti pola arus perairan di utara Papua.

“Namun kalau berkaitan apakah ada gunung api yang aktif di bawah laut di sekitar Papua, mungkin Badan Geologi Vulkanologi (mengetahui),” jelas Heri.

Lebih lanjut, BMKG memandang perlu adanya penelusuran mendalam untuk memetakan dampak fenomena ini terhadap masyarakat dan ekosistem pesisir. Saat ini, BMKG menerima laporan bahwa tumpukan batu apung tersebut telah membentuk daratan baru di kawasan yang terdampak.

“Kalau membahayakan secara signifikan perlu penelitian lebih lanjut, namun akibat material tersebut pasti mengakibatkan pendangkalan di pesisir akibat penumpukan sedimen,” jelas Heri.

Ke depan, batu apung tersebut diperkirakan masih akan terus bergerak mengikuti arus laut, meskipun sebagian material akan tetap mengendap di pesisir. Menanggapi potensi gangguan pada sektor pelayaran, BMKG meyakini otoritas terkait telah mengambil langkah antisipasi.

“Namun, jika itu sekiranya membahayakan jalur pelayaran, pasti akan dibersihkan. Pasti pihak pelayaran sudah antisipasi,” pungkasnya.